TEPUKAN KEKACAUAN
“Saya bisa sendiri” Dahi mu berkerut lalu bibir yang sedikit pucat itu berucap pelan, aku hanya bisa memantung mendengar perkataanmu. Padahal aku sudah terbiasa dengan penolakan, namun entah mengapa penolakan dari mu masih belum bisa aku terima. Aku tahu hari-hari yang kamu lalui belakangan ini tidak mudah, tapi bisakah sedikit saja bersikap baik kepadaku? “Kenapa Tuhan tidak membuat saya mati saja saat itu,” sekarang kamu berucap pelan sambil tertatih menuju sofa empuk yang berada di dekat TV. Walaupun aku tidak bisa melihat ekspresi kamu, tapi aku yakin sekarang dahi mu tengah terlipa menjadi beberapa lipatan. “Daripada saya harus seperti ini seumur hidup, tidak berguna,” lanjut mu Aku tahu pikirannya sedang tidak baik, sama dengan kaki dan tangannya yang terbalut perban, sungguh, hatiku sangat sakit melihatnya seperti ini. Selama ini dia cukup menderita dengan banyak nya masalah yang bertubi-tubi datang, dan salah satu masalah itu adalah aku. “Jangan bicara seperti...