TEPUKAN KEKACAUAN


 

“Saya bisa sendiri” Dahi mu berkerut lalu bibir yang sedikit pucat itu berucap pelan, aku hanya bisa memantung mendengar perkataanmu. Padahal aku sudah terbiasa dengan penolakan, namun entah mengapa penolakan dari mu masih belum bisa aku terima.

Aku tahu hari-hari yang kamu lalui belakangan ini tidak mudah, tapi bisakah sedikit saja bersikap baik kepadaku?

“Kenapa Tuhan tidak membuat saya mati saja saat itu,” sekarang kamu berucap pelan sambil tertatih menuju sofa empuk yang berada di dekat TV.

Walaupun aku tidak bisa melihat ekspresi kamu, tapi aku yakin sekarang dahi mu tengah terlipa menjadi beberapa lipatan. “Daripada saya harus seperti ini seumur hidup, tidak berguna,” lanjut mu

Aku tahu pikirannya sedang tidak baik, sama dengan kaki dan tangannya yang terbalut perban, sungguh, hatiku sangat sakit melihatnya seperti ini. Selama ini dia cukup menderita dengan banyak nya masalah yang bertubi-tubi datang, dan salah satu masalah itu adalah aku.

“Jangan bicara seperti itu, pemakaman sekarang mahal, orang-orang ingin berumur panjang, “ aku melangkahkan kaki menuju meja pantry di mana ada beberapa makanan sisa yang tidak habis ia santap.

“Jadi, secara tidak langsung kamu menilai orang-orang ingin berumur panjang itu karena enggan membayar biaya pemakaman, begitu? “

Kulihat sekilas dari belakang, bahunya bergetar, entah menangis atau tertawa namun yang aku harapkan dia tertawa karena ucapan asalku. Sebenarnya ini sulit, dalam diriku ingin sekali dia mati saja, namun setengahnya tidak menerima, jiwaku yang lain meraung-raung ketika tahu kabar bahwa ia mengalami kecelakaan.

Hidup dengannya selama 8 tahun bagai di neraka, pernikahan yang tidak di dasari cinta memang sangat mengerikan. Memasuki dunia pernikahan jauh sekali dari pikiranku, apalagi sampai mempunyai anak. Namun ada sesuatu yang tidak bisa ku tolak ketika harus di nikahkan dengan nya.

“Kinal” bisiknya,

Sejak kappan dia memanggil namaku sepelan itu, tidak pernah dalam 8 tahun pernikahan kami ia seperti ini. mungkin karena sekarang ia cacat? Entah lah Tuhan saja bingung menghadapi sikap seorang Min Yoongi.

Hening. Tidak ada jawaban yang kelar dari bibir ku, aku terus memandanginya yang menatapku dari kejauhan, dia menatapku lurus, namun lama kelamaan ia menatapku dengan tatapan yang tidak dapat aku artikan.

Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutku, hanya suara televise yang sengaja di nyalakan agar rumah yang kami tempati tidak terlalu sepi.

“Kinal,” sekali lagi ia memanggil namaku, kali ini suaranya parau, aku masih memandanginya dari tempatku berada, ia masih disana tidak bergerak, memandangiku dalam. Namun ada yang berubah, suara itu sedikit berudah, intonasi serta nada suaranya berubah.  membuat kerongkoan ku terasa kering, bagai mencari-cari celah dari dinding yang tertutup rapat. Aku menutup mulut, mengambil nafas. Lama sekali aku mencerna semuanya, namun tepukan pelan di pundaku memaksaku menoleh ke belakang,

“Kinal, jadi kapan pemakaman Yoongi dilakukan?”

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarjana Terapan Kebidanan + Pendidikan Profesi

Pengalaman di Behel diklinik gigi Audy Dental Bandung

Mimpi dan target. Apa bedanya?