Menjadi Orang Tua adalah Pekerjaan Seumur Hidup





Angin yang bertiup dari barat

 

“Orang tua yang baik akan selalu ada saat anaknya butuh. Tapi orang tuayang berhasil adalah orangtua yang membuat anaknya bisa menyelesaikan banyak hal tanpa butuh orang tuannya. Bantu kami jadi orang tua yang berhasil ya, Kak”

 

Paragraph pembuka di atas adalah salah satu ucapan yang di ucapkan oleh ibu temanku saat dia dengan berurai air mata bercerita bagaimana ia bisa memperbaiki hubungan dengan orang tuanya yang dulu selalu di selimuti konflik.

Sudah selayaknya sebagai orang tua kita bertanggung jawab betul atas anak yang Allah kasih kepada kita. Tanggung jawab tentu tidak hanya ada ditangan Ibu, namun juga tangan ayah. Anak butuh kedua orang tua untuk berkembang, anak butuh dua kepala untuk memenuhi satu isi kepalanya yang masih kosong. Tidak bisa kita membebankan semua kewajiban kepada Ibu saja. Namun mirisnya di lingkungan masyarakat kita, system patriarki masih sangat kental. Menganggap dari urusan mengandung, melahirkan dan menyusui itu adalah tugas dari Ibu. Ayah hanya bekerja mencari nafkah.

            Tentu saja system patriarki seperti itu memberatkan bagi Ibu dan Ayah. Pandagan social kepada Ayah yang rela cuti bekerja hanya demi mengurusi istri dan anaknya bahkan di cap aneh. Padahal di luar negeri sana, di negara yang sudah maju akan ilmu dan teknologi. Perusahaan mewajibkan Ayah cuti demi bisa meyaksikan tumbuh kembang anaknya. karena sesungguhnya perkembangan dan pertumbuhan Anak dari saat ia lahir sampai saat ia akan menginjak balita adalah sesuatu anugrah yang besar dan tidak dapat di ulang. Bagaimana kita mengasuh dan memberikan kasih sayang di 1000 pertama kehidupan merupakan hal yang sangar penting.

            Anak sudah bisa merasakan kasih sayang kedua orang tuanya saat masih di usia dini. Anak pun bisa merasakan mana kasih sayang yang tulus dan mana kasih sayang yang palsu. Anak mempunyai insting dan perasaan yang dalam terhadap kedua orang tuanya, maka dari itu asuh lah anak dan rawatlah sebagai titipan sang maha Kuasa yang paling berharga.

            Saya ingat betul sebuah kutipan yang mengatakan, “Semua wanita bisa saja mengandung dan melahirkan, namun tidak semua wanita bisa menjadi orang tua.” Kutipan tersebut menunjukan bahwasannya menjadi orang tua bukan pekerjaan yang mudah, menjadi orang tua adalah pekerjaan seumur hidup yang perlu kita tanggung. Kutipan di atas juga membuktikan bahwa tidak semua orang sanggup menjadi orang tua, walaupun ia telah mengandung dan juga melahirkan.

            Seringkali ketika kecil, kita selalu di doktrin menuruti dan menaati orang tua, dan jangan sesekali membantah apalagi melawan. Namun menurut saya, doktrin seperti itu bisa saja menjerumuskan kita kedalam lubang rasa dendam, rasa tidak ingin di lahirkan dan dibesarkan oleh orang tua. Karena tidak sedikit orang tua yang membuat kesalahan atas keputusan yang harus anaknya ambil dengan dalil “Anak harus selalu patuh pada orang tua” padahal relasi yang baik adalah yang saling terbuka dan menghargai diantara anak dan orang tua. Namun memang sekali lagi pola asuh sedari kecil, bagaimana anak itu di perlakukan membentuk prilaku anak itu sendiri, tidak semua anak sanggup terbuka memberikan pendapat dan sarannya, karena tadi ia di besarkan untuk tidak menjadi anak yang bisa memberikan pendapat.

            Seringkali orang tua menyalahkan anak atas apa yang anak perbuat, namun tadi mereka lupa, mereka yang membuat si anak menjadi seperti itu. Seperti kutipan yang tadi penulis baca di artikel tersebut, bagaimana bisa kita menuntut anak menjadi terbuka bila setiap kali ia jujur orang tua malah menjudge dengan kata yang kurang pantas di ucapkan oleh seseorang yang harusnya selalu memberikan rasa sayang. Bagaimana kita menuntuk anak menjadi seseorang yang ceria jika di rumah yang ia terima adalah teriakan dan amarah dari kedua orang tuanya.

            Tanpa sadar sebenarnya orang tua yang menciptakan karakter anak ketika ia dewasa, bagaimana cara dia menghormati orang lain, bagaimana cara dia bisa menerima perbedaan dan bagaimana cara ia memaafkan dan meminta maaf.

            Berbicara tentang permintaan maaf dan memafkan, orang tua di Indonesia sering sekali sulit untuk meminta maaf kepada anak secara eksplisit, memang betul cara orang menunjukan kasih sayang berbeda-beda begitu juga dengan orang tua. Namun kenapa hanya anak yang di tuntut meminta maaf ketika kesalahan sebenarnya ada di pihak orang tua.

            Maka dari itu setelah tau menjadi orang tua adalah hal yang tidak mudah, butuh banyak sekali persiapan. Bukan hanya masakah soal materi, karena sesungguhnya ketika kita memutuskan menjadi orang tua, kita harus siap dengan segala pengeluaran materi yang ada. Di samping kesiapan materi, tentu saja tak kalah penting adalah persiapan mental. Karena jika mental masih merasa ragu dan belum yakin untul menjadi orang tua, lebih baik kita menunda dulu dan sembari menunda tentu dengan muhasabah diri dan selalu memperbaiki diri. Juga tentang penerimaan diri, bagaimana bisa membesarkan anak dengan orang tua yang pada dirinya saja ia belum menerima dan memaafkan diri sendiri.

            Karena jika orang tua masih mempunyai trauma, dendam dan juga rasa sakit dari dalam diri yang belum juga sembuh, semua itu akan berdampak buruk pada orang tua saat membesarkan anaknya. bagaimana orang tua bisa membesarkan anak yang diharapkan soleh solehah dan berbakti jika di hati orang tuanya masih ada dendam masa kecil, trauma masa lalu yang selalu menghatui? Perkataan orang tua yang dianggap sepele di masa-masa saat mengasuh dan membesarkan anaknya akan berdampak besar saat ia tumbuh nantinya.

            Tanpa adanya komunikasi yang terjalin baik sedini mungkin antara orang tua dan anak, bisa mengakibatkan si anak salah menafsirkan apa maksud dan tujuan orang tuanya. Maka dari itu ajak anak sedini mungkin berdiskusi apapun, hal remeh pun tidak menjadi masalah. Karena dengan diskusi dan saling terbuka, hubungan orang tua dan anak menjadi baik. Menurut artikel yang pernag penulis baca, cara mengasuh orang tua pada anak di masa kini adalah gambaran bagaimana orang tua tersebut dulu diasuh di dalam keluarganya. Maka dari itu, sebagai calon orang tua kita di wajibkan terus belajar dan mencari ilmu sebanyak mungkin tentang menjadi orang tua yang baik. Kita boleh mengambil pola pengasuhan yang baik-baik di masa lalu, lalu jadikan pelajaran jika pola asuh orang tua kita dahulu di rasa tidak tepat.

Seperti yang sudah di jelaskan di awal, bahwa tugas merawat dan mengasuh anak adalah tugas keduanya. Karena sosok Ayah sangat berperan penting pada psikologis dan mentalitas anak ketika dewasa. Anak yang dibesarkan tanpa sosok dukungan dan dampingan seorang Ayah biasanya tampak bermasalah secara emosional. Sekecil apapun Ayah harus berperan serta dalam membesarkan dan merawat anaknya.

Sebagai calon bidan dan nantinya akan menjadi bidan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat sudah seharusnya kita banyak belajar agar kita bisa mengedukasi calon orang tua bagaimana nanti mereka merawat dan  membesarkan anaknya dengan baik. Karena sesungguhnya pendidikan awa; yang baik itu bukan dari saat anak memasuki bangku sekolah, namun bagaimana ia di asuh dan di didik di dalam lingkungan keluarganya. Orang tua tidak bisa menyerahkan sepenuhnya dan berharap ada perubahan pendidikan pada anak kepada sekolah untuk menuntut perbaikan pendidikan, tanpa ada perunahan pendidikan di dalam keluarganya.

Peran pendidikan dalam keluarga itu sangat penting, bukan hanya karena waktu yang di habiskan dirumah lebih banyak, namun memang orang tua lah yang memberikan pengaruh besar pada pendidikan anaknya. sebagai bidan salah satu yang perlu di perbaiki adalah memberikan pendidikan kepada orang tuanya, membuat para orang tua berdaya dalam membesarkan anaknya di rumah nanti. Harapan saya sebagai calon bidan, tiap BPM atau Puskesmas mewajibkan pasangan yang baru menikah mengikuti kelas Parenting karena tadi, sangat berguna untuk memberikan pendidikan kepada anak nya di dalam keluarga.

Orang tua yang sudah dibekali oleh ilmu dan juga pengerahuan tentang parenting akan menghasilkan anak-anak Indonesia di masa yang akan datang menjadu lebih mandiri, cerdas dan sudah siap dalam menghadapi perubahan di masa depan, hal ini juga membantu pemerintah dalam menyiapkan generas-generasi penerus yang berkualitas. Maka dari itu perlu rangkulan dari semua pihak yang terlibat.

Penulis menyarankan sebelum memutuskan menjadi orang tua hal utama tentunya harus terus belajar, karena sesungguhnya agar bisa menjadi orang tua yang baik harus terus menggali ilmu dan belajar agar terus mencintai lebih baik dari sebelumnya. Seperti angin dari barat, yang menyebabkan Indonesia memasuki musim hujan yang tidak hanya selalu membawa petaka namun juga berkah bagi sebagian orang. Begitulah kiranya orang tua, orang tua juga tidak selalu benar, namun juga tidak selalu salah. Kita juga mungkin akan mengalami, bagaimana sulitnya menjadi orang tua, karena kita tidak benar-benar memahami suatu keadaan sampai dimana kita sendiri yang mengalami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarjana Terapan Kebidanan + Pendidikan Profesi

Pengalaman di Behel diklinik gigi Audy Dental Bandung

Mimpi dan target. Apa bedanya?