“Semesta memutar balikan Takdir seakan-akan kehidupan adalah sebuah bianglala di tempat bermain”

 ***

Ubud, 20 juni 2027

Suara burung yang saling bersahut terdengar jelas dari tempat tidurku, kalo boleh memilih aku masih ingin berleha-leha di kasur empuk yang sudah ku klaim menjadi kasur kesayanganku sejak dua bulan yang lalu.

Berjauhan dengan orang tersayang nyatanya tidak mudah, sejak kecil aku memang orang yang sudah di manja orang tua. Memutuskan pindah ketempat baru tentu bukan perkara mudah.

Butuh adaptasi yang ekstra, bagiku khususnya. Gadis yang dulu selalu minta di belikan es krim nyatanya sudah bertumbuh menjadi wanita dewasa yang dipaksa mandiri oleh keadaan.

Kepergian Ayah tahun lalu membuatku harus berfikir kedepan, tidak boleh lagi menjadi anak yang selalu menggantungkan apapun ke orang lain.

Kupaksakan tubuhku bangkit dari kasur, merentangkan tangan sejenak lalu memilih untuk membereskan kasur yang dilapisi sprai putih polos ini.

Sebenarnya aku tidak suka gagasan memakai sprai putih polos, takutnya tamu tak di undang datang tiba-tiba dan mengotori sprei ini, jika sudah begitu pasti aku juga yang repot harus membereskan.

Setelah beres dengan urusan tempat tidur, ku putuskan untuk membuka jendela membiarkan udaradingin ubud masuk memenuhi kamar kos ku yang tidak terlalu luas ini.

Yang paling aku suka tinggal disini adalah ketika jendela kamar dibuka, pemandangan sawah yang hijau langsung menyambutku. Ubud memang berbeda dengan daerah lainnya di bali. Disini memang tak seramai Denpasar dan Kuta, namun itulah yang aku suka.

Keheningan yang menentramkan jiwa, walaupun terkadang keheningan bisa membunuh secara perlahan.

***

Aku memandangi layar ponselku, sambil menanti abang ojek online yang sudah dua menit yang lalu berkata akan segera tiba, tapi sampai sekarang belum terlihat batang hidungnya.

Tiiiit

Tiiit

Hampir saja ponsel digenggamanku terlempar ke jalanan ketika tiba-tiba suara klakson dari motor di belakangku bersuara tanpa aba-aba.

Aku hendak protes, namun ternyata ia abang ojek yang sedari tadi aku tunggu, tak mau membuang waktu dengan berdebat, kuputuskan untuk duduk di belakangnya setelah memakaikai dulu helm hijau yang menjadi ciri khasnya.

Perjalanan dari tempatku tinggal ke hotel dimana aku berkerja tidak terlalu jauh, mungkin sekitar sepuluh menit menggunakan ojek motor.

Tak kusadari motor yang dikendarai abang ojek sudah terparkir di depan gerbang hotel ini, aku memberinya beberapa lembar rupiah sebelum menguccapkan terima kasih.

“Selamat pagi bli pande, cuacanya indah ya,”  ucapku dengan ramah setelah sampai di depan pos satpam.

Disana ada bli pande yang merupakan satpam senior dan juga bli adi yang baru sekitaran dua bulan kerja disini.

Mereka yang menjadi teman pertamaku saat aku menginjakan kakiku di hotel megah ini, entah mengapa aku bisa merasakan bahwa mereka orang baik yang memang tulus kepadaku.

Aku pamit masuk ke dalam dengan sopan setelah bercakap-cakap santai, di sekeliling hanya ada clining service yang sedang sibuk membersihkan area hotel ini.

“Wah besok ada acara ya?” tanyaku pada salah satu pegawai yang sekarang sedang sibuk menghias sesuatu.

“Iya, pameran lukisan. Acaranya besok,” jawabnya singkat, dan masih berfokus pada banner yang akan ia pasang di depan.

Aku mengangguk paham, tanpa bertanya lagi aku putuskan untuk memasuki dapur dimana tempat kerjaku berada. Nyatanya menjadi Food and Beverage Manager tidak segampang kedengaranya. Banyak sekali tekanan yang aku dapat disini.

Aku mendudukan diriku di kursi hitam ini, kursi yang selalu menjadi saksi ketika aku menegur salah satu karyawan karena keteledorannya.

Lukisan, lukisan. Aku mengulang-ulang lagi kalimat ini, mengingatkanku pada seseorang yang dulu sangat berarti dalam hidupku. Aku ingat sekali wajahnya ketika ia selalu dimarahi oleh Ayahnya hanya karena pergi melukis bersamaku.

Tidak, aku tidak paham caranya melukis, namun katanya aku hanya sebagai inspirasinya.

Ide-ide brilian selalu muncul jika aku selalu di dekatnya, tak kusadari aku menyunggingkan senyum, sekaligus merasa hampa. bagaimana kabarnya ia sekarang? Apakah ia sudah bisa menggapai mimpinya? Ah walaupun sudah 10 tahun berlalu, namun rasanya seperti baru kemarin ia menghilang tanpa berkata apa-apa.

 

***

‘JJ’

Mataku menyipit, saat melihat inisial di salah satu sudut lukisan indah ini, namun buru-buru aku menggelengkah kepala pelan.

Tidak mungkin. Ini adalah salah satu lukisan yang pasti di buat oleh salah satu pelukis terkenal, mungkin inisial itu hanya kebetulan.

“Ji, jian ” sebuah suara familier memanggilku, ku edarkan pandangan pada kerumunan orang yang mulai memadati hall hotel ini untuk melihat berbagai lukisan yang di pamerkan. pandanganku menagkap sosok perempuan ber kameja kotak-kotak tengah melambaikan tangan ke arahku.

Bella.

Aku membalas lambaiannya, kemudian berusaha menuju ke arahnya yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatku berdiri, namun sebelum sampai di tujuan. Satu tangan menyentuh pundakku pelan.

“Jian…?”

Belum sempat aku mengalihkan pandangan untuk melihat siapa yang menyentuh pundakku, ia sudah memanggil nama ku lembut.

Aku berbalik cepat, kemudian di suguhkan senyuman lebar dari orang di depanku. Aku sempat terdiam, waktu seperti berhenti sesaat saat aku menemukan lagi mata itu, mata yang selalu membawa keteduhan sampai hatiku.

“Ini kamu kan? Soda-soda…? “ ia berucap senang, sambil mengeluarkan kata-kata yang menjadi kode rahasia kami dulu, semasa kecil. Senyumnya tidak pudar di wajahnya.

Aku hanya bisa mematung sebentar, apakah aku tidak sedang bermimpi? Jika benar tolong siapa saja sadarkan aku.

Setelah beberapa lama tak mengeluarkan kata apapun, kuberanikan diri untuk mengucap namanya.

“Jimin…?” kataku hati-hati.

Di depanku Jimin menganggukan kepala beberapa kali sambil memasang wajah yang ramah.

“Keluar yuk aku mau ngobrol, disini terlalu rame,” tawarnya, kemudian tanpaku sadari ia menarik tanganku menjauhi para kerumunan orang yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Jimin membawaku ke café yang berlokasi di sekitaran hotal.

Kami kemudian duduk setelah sebelumnya memesan minuman.

“Gimana kabar kamu? Ga nyangka bisa ketemu disini. Kamu banyak utang cerita nih sama aku,” tanyanya basa-basi.

“Aku juga ga nyangka kamu masih idup,” Candaku balas menimpali. Ia masih sama, seperti Jimin yang dulu aku kenal. Periang, dan selalu menampakan senyuman di hadapan orang-orang.

Takdir seperti membawaku ke arah masa lalu, saat itu usiaku masih 12 tahun, saat dimana Jimin memintaku menjadi pacarnya. Konyol memang, namun nyatanya aku yang lebih konyol sudah menyetujui dan menerimanya.

Ia kemudia bercerita bahwa sudah dua tahun ini tinggal di Kintamani, seorang diri. Ia juga banyak belajar melukis disini. Tentu saja Bali pusatnya orang-orang kreatif dan berbakat.

“Kapan-kapan aku ajak ke Kintamani, belum pernahkan? Disana pasti kamu betah, gunung semua.” Timpalnya di tengah-tengah obrolan.

Kami tenggelam obrolan begitu saja, sebelum sebuah suara memotongnya.

“Jimin, aku cari kamu dari tadi,” 

Wanita itu kini tengah berdiri disamping Jimin, kemudian meliriku sekilas dan menyodorkan tangan.

“Amel, “

“Jian” aku nemerima uluran tanganya, dengan senyum yang terpatri di wajahku

Jimin menarik bangku di sebelahnya untuk mempersilahkan wanita bernama Amel ini duduk.

“Oh iya Ji, ini tunanganku ,” katanya, tanpa keraguan didalam suaranya. Anehnya hatiku merasakan hal yang sebelumnya belum pernah aku rasakan.

***

“Jian, aku sudah bilang aku serius kali ini, kasih aku kesempatan,”

Kedatangan lelaki berambut coklat ini menggangku tidur siangku di hari libur ini. aku bahkan tidak yakin apakah dia memang benar sudah berubah dan serius seperti yang ia katakan.

“Omong kosong Jey, kamu sudah ketahuan dua kali mencium wanita bule yang berbeda di pub itu, lalu sekarang kamu datang untuk berubah? Kamu pikir kamu bunglau bisa berubah secepat itu.” Semburku dengan penuh penekanan.

Namanya Jeon jungkook, namun karena terlalu panjang aku lebih suka memanggilnya Jey, dia mantan pacarku yang ku putuskan seminggu yang lalu, dan sekarang ia baru muncul lagi misuh-misuh tidak terima.

“Nggak bisa gitu dong,  masa kamu tega begitu aja ninggalin aku,”

Aku menggeleng keras, seberapapun usahanya untuk membujuku lagi kali ini tidak akan berhasil.

Namun kemudian cengkramannya di tanganku membuat ku terhenyak kaget,

“Ji, aku mohon kasih aku kesempatan, Demi Tuhan aku akan berubah,”

Matanya lamat-lamat memandangiku, sekarang kami sedang berada di ruang tamu khusus pengunjung kos.

Aku terdiam berfikir, sebenarnya dari awal aku tidak menaruk perasaan apapun padanya, namun karena ke gigihannya akhirnya aku mau menerimanya sebagai pacarku, ternyata seiring berjalannya waktu aku pelan-pelan jatuh padanya.

Namun, setelah aku pelan-pelan bisa membuka hati, ia menodai kepercayaanku dengan mencium dua wanita sekaligus di salah satu pub.

Ia terus mencengkram lenganku kuat, dan selanjutnya berlutut memohon-mohon agar kembali di terima.

“Jey, bangun, ok ok, kita balikan” tandasku cepat,

“Puas? Sekarang silahkan pergi, aku mau tidur dan istrirahat,” lanjutku lagi. Setelah mendengar apa yang aku ucapkan Jey bangkin perlahan dan memeluku erat.  

***

“Inisial itu memang aku buat khusus untuk inisal kita Jimin dan Jian, JJ,”

Mulutku membentuk huruf O besar takala Jimin sudah bercerita panjang lebar mengenai karirnya, walalupun di tentang mati-matian oleh keluarganya, khususnya Ayahnya toh pada akhirnya ia bisa membuktikan pada mereka bahwa ia bisa menjadi pelukis terkenal sampai sekarang.

“Tapi aku ga nyangka ternyata kita bisa bertemu kembali, secara tidak sengaja,” tambahnya lagi, di barengi dengan senyuman yang ia lemparkan.

Lalu setelah mulai lelah bercerita, ia membasahi tenggorokannya dengan secangkir jus Apple, kesukaanya. Aku memandanginya yang sekarang tengah sibuk bercerita kembali.

Ia tidak berubah, gerakan lengannya yang khas mengingatkanku pada pertama kali kita bermain bersama di halaman rumahnya, tawanya yang terdengar nyaring di telingaku membuat hatiku kembali terhimpit akan sesuatu.

Mengapa takdir mempertemukan kita Jim? Aku masih tidak percaya dengan semuanya.

Dulu ketika kamu meninggalkanku tanpa alasan, aku memantapkan hati untuk melupakan bayang-bayangmu di kehidupanku.

Dulu ketika sebuah surat tergeletak begitu saja di depan rumahku, aku sudah memantapkan hati untuk menghapus jejak ingatan yang mengarah kepadamu.

“Hmm, kamu masih nulis,?”

Pertanyaanya membuatku tersadar dengan apa yang tengah ia bicarakan, aku tertegun. Lantas tersenyum lembut. Aku tidak mungkin bicara jujur padanya.

Aku berjanji setelah kamu pergi tanpa mengatakan apa-apa, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan berhenti menulis. Berhenti berimajinasi. Karena setiap tulisan yang aku rangkai selalu tertuju pada satu nama. Kamu.

“Karena satu alsan, aku rasa aku udah capek nulis dan memutuskan berhenti aja” ucapku berbohong, ia mengangkat sebelah alisnya heran.

“Ga mungkin tanpa alasan,” tanyanya menyelidik, kini tangannya menggenggam jemariku hangat.

Kehaangatan itu semakin menjalar ketika ia mulai mengelus tanganku pelan menggunakan ibu jarinya, seakan menstransfer energy yang ada.

Aku tidak mengucapkan apapun, kami berpandangan cukup lama. Entah apa yang di pikirkannya saat ini, namun yang pasti hatiku dengan tidak tahu malunya kembali menginginkannya.

Jimin menghubungiku disaat aku berhasil mengusir Jey pergi, nyatanya keberadaan kami di sini tidak diketahui pria itu. Aku bukannya mau berbohong, namun mengingat sifatnya aku mengurungkan niat untuk memberitahunya.

“Ji, gimana kalo minggu depan kamu ikut aku dan Amel ke Pandawa?”

“Gimana ya, cowokku pasti ga ngijinin sih,” jawabku jujur, ia terlihat berfikir sejenak sebelum kembali bersuara.

“Ide bagus, bawa aja pacar kamu, its okay kita bisa have fun disana, gimana?” tawarnya. Aku bergeming untuk memikirkan tawarannya, namun daripada aku pergi hanya bertiga dengan Amel, akan lebih baik kalo Jey juga ikut.

“Aku Tanya dulu Jey ya, semoga dia mau.” Kataku.

Kami kembali tenggelam dalam kesunyian, diantara kita tidak ada yang memulai lagi percakapan, hanya di iringi suara gemercik air hujan yang sekarang membasahi bumi.

“Kamu semakin cantik Ji, mata itu ga berubah ya. Meneduhkan.” Tanpa aba-aba ia bergumam pelan, aku memalingkan wajah karena malu.

”Kebiasaan, kalo di puji suka langsung buang muka,”  ia terkekeh geli, sambil mencubit pipiku gemas. Kebiasaan kecil yang sudah lama sekali tidak kami lakukan nyatanya sekarang kembali terulang.

Aku memukul tangannya pelan, Jimin adalah orang yang bisa membuatku malu karena pujian kecil yang ia lontarkan. Nyatanya 10 tahun berlalu, pujian yang ia ucapkan tetap berefek.

***

Matahari sore di pandawa memang tidak seindah matahari senja di pantai seminyak. Yang jika senja hampir tiba, pedagang makanan sudah membuka kios nya masing-masing. Menjejerkan meja-meja dan kursi di sisi pantai.

Walalupun tidak seindah itu, namun langin kejinggan di pantai pandawa masih terlihat indah.

Aku menghirup nafas lega, memejamkan mata membiarkan angin berhembus ke wajahku.  Namun tiba-tiba dua pasang tangan mememluku dari belakang, sambil mencium belakang telingaku.

Kupalingkan muka ke belakang, senyuman khas kelinci yang ia berikan sukses membuatku ikutan tersenyum.

“Indah ya,” aku mengangguk menyetujui.

Pandangan ku alihkan untuk melihat sekitar, namun yang terjadi pandanganku bertemu dengan pemilik mata teduh yang sekarang sedang memandangi kegiatan kami dengan ekspresi yang sulit aku tebak. Ia terang-terangan memandangi kami, jarak dimana aku dan Jey berdiri dengan jaraknya berdiri tidak begitu jauh. Aku bisa merasakan tatapan tajamnya masih terfokus.

Aku buru-buru mencoba melepaskan pelukan Jey, ia sempat heran menatapku tidak percaya.

“Kenapa?” ia bertanya dengan wajah bingung, aku hanya diam tak menanggapi, namun nyatanya kediamanku membuat Jay kesal. Tiba-tiba dia meremas pergelanganku dengan kasar.

Aku meringis, selalu seperti ini. ketika ia mulai kesal selalu saja aku yang ia sakiti.

“Sakit, lepasin,” pintaku, aku tidak mengerti dengan jalan pikiran pria ini, ia begitu mudah emosi hanya dengan hal yang aku anggap kecil.

“Apa maksud kamu ngelepasin pelukanku? Hah?” Jey berteriak di depan mukaku. Pantai ini memang berangsur sepi karena malam akan menjelang, tapi pertengkaran kami nyatanya sukses mengundang perhatian beberapa orang.

Namun tak lama setelah itu aku lihat Amel berlari kecil menghampiri, dan berusaha menenangkan Jey yang sampai sekarang masih Nampak kesal.

Kami berdua memesan dua kamar hotel, tentu aku sekamar dengan Amel mengingat kejadian yang baru saja kami alami.

Amel ternyata perempuan keibuan yang baik, gadis campuran Bali-Jawa ini memang sangat sopan.

Matahari sudah mulai menghilang dibalik bukit bebatuan di sekeliling pantai ketika kakiku menginjakan hotel yang akan menjadi tempat kami menginap selama dua malam ini. Amel disampingku melirik sekilas, mungkin memastikan apakah aku baik-baik saja.

Aku tidak melihat Jimin dan Jey, kukira mereka mengikuti kami untuk segera ke hotel dan beristirahat.

“Jimin tadi dia bilang ingin mencari udara segar, gatau juga kemana. Dan jey tadi aku lihat dia ada di café depan.” Ucap Amel ketika mengetahui aku mencari seseorang.

Kamar yang kami tempati tidak terlalu luas, namun jika hanya untuk dua orang kurasa ini lebih dari cukup. Aku mengamati Amel yang sekarang sedang membereskan pakaiannya dengan telaten.

Tubuhnya yang cantik khas gadis bali menambah keanggunan yang ia punya, mungkin dia memang wanita yang tepat untuk menjadi pendamping hidup jimin. Bukan hanya perkara penampilan fisik, namun jelas dia mempunyai hati yang tulus.

Setelah selesai, ia kemudian duduk di samping tempat tidur, badanya menghadap ke arahku.

“Ji, “ katanya membuka percakapan.

“Aku boleh Tanya?”

Kali ini dengan wajah serius,

“Aku ingin mendengar cerita tentang kalian, di masa lalu”

“Tentang kami?” tanyaku memastikan, ia mengangguk pelan

“Iya, kamu dan Jimin, pernah ada hubungan apa?”

Aku menggigit bibir bawah entah harus di mulai darimana cerita perjalanan kami.

“Sudah 10 tahun kami ga bertemu, dan sekarang baru dipertemukan kembali,” jawabku seadanya sambil membenarkan posisi dudukku agar nyaman.

Kulihat amel tersenyum sendu, wajahnya seakan menyembunyikan sesuatu.

“Kamu tahu perjalanan Jimin bisa sampai sekarang itu ga mudah?”

Aku bergeming, menunggu kelanjutan kisah yang akan Amel berikan

“Jimin sangat terpuruk, dia di usir oleh Ayahnya karena keras kepala dan ga mau nerusin perusaha Ayahnya, malah memilih sebagai pelukis,”

“Mengejar mimpinya,” tambahnya lagi “Sampai-sampai badanya kurus sekali waktu pertama Ayah aku menerimanya sebagai murid, ga tega aku litanya.”

“Setelah beberapa tahun menjadi murid Ayahku, ternyata memang bakatnya luar bisasa di bidang seni, lukisannya banyak disukai oleh pelanggan asing. “ ucapnya, sekarang suaranya mulai bergetar.

Tanpa terasa bulir air mata jatuh perlahan membayangkan banyaknya beban yang harus Jimin tanggung sendirian.

“Dan kamu tahu, setiap kali dia terlihat kesusahan mencari inspirasi untuk lukisannya, dia suka sekali ke pantai dekat rumah dan meneriakan nama mu ji, Jian. Aku hafa sekali logatnya saat meneriakan nama itu.” Amel menarik nafas samar, mengumpulkan kekuatan.

“Dia banyak sekali bercerita tentang kamu ke aku, sampai aku seperi benar-benar mengenal Jian tanpa bertemu sebelumnya.” Tangan Amel berusaha menyeka air mata yang tak malu-malu ia keluarkan.

“Tatapan Jimin ke kamu, tatapan seperti tu ga pernah aku terima dari Jimin, “ ucapnya getir, ia tersenyum sekilas.

Aku sungguh tidak bisa berkata apa-apa, perempuan luar biasa ini pasti merasakan sakit yang teramat sangat. Aku mendekatkan tubuhku lalu memeluknya erat.

***

Kugulingkan badanku ke kiri lalu setelah itu kekanan, tetap saja mataku tidak bisa terlelap setelah apa yang Amel ceritakan beberapa jam yang lalu. Amel di sebelahku nyatanya sudah tertidur lelap. Kuputuskan untuk mengecek ponsel dan aku menemukan satu pesan masuk.

 

From: Jimin

>Udah tidur? Bisa keluar sebentar?

Aku melirik Amel disampingku, cukup lama aku memikirkan untuk menemuinya atau jangan. Dan yang terjadi selanjutnya aku menyambar jaket yang tergantung dan berjalan ke arah pintu pelan-pelan.

Udara dingin langsung menyambutku, ekor mataku melihat sosok yang sekarang sedang berdiri di pasir putih sendirian. Hotel kami memang langsung menghadap kelaut.

“Kamu baik-baik aja?”

Aku tidak menjawab, bingung dengan pertanyaan yang ia lontarkan,

“Diamana Jey?” tanyaku, namun Jimin memandangiku tidak percaya.

“Kamu bahagia sama dia?” Ucapnya memastikan, ada kekawatiran yang terlihat jelas.

“Kebahagianku tidak mempengaruhi siapapun,” jawabku santai, sambil menyingkirkan anak rambut yang tertiup angin pantai.

Jimin membalikan badan dan membawa tangannya untuk menyentuh pundakku pelan

“Setidaknya kebahagian kamu sangat berpengaruh untuk hidupku, ji” posisi seperti ini membuatku sulit untuk mengalihkan pandangan matanya yang semakin sendu.

“Aku tahu kamu berhunungan dengan orang salah Ji, tinggalkan si brengsek itu,” ucapnya lagi dengan lancar, aku menggeleng pelan. Apa maksudnya menyuruhku mengakhiri hubungan dengan Jey.

Tanpa ia suruhpun sudah beberapa kali aku berniat mengakhiri hubungan kami.

“Maaf,? Kamu ga ada hak bicara seperti itu,”  Aku ragu-rahu berucap, kini tangannya ia bawa untuk menggenggam tanganku erat.

“Aku sayang kamu Ji, aku ga sudi dia bersama kamu, dia itu lelaki brengsek yang toxic dan suka memanifulatif. Bajingan itu dengan bangga cerita sama aku sudah melarang kamu melakukan sesuatu,” tandasnya, aku tidak tahu harus berkata apa.

“Cinta itu membebaskan Ji, bukan mengekang,”

Aku menunduk, menahan tangis yang sebentar lagi akan tumpah. Hatiku seakan semakin terhimpit ketika ia terus-terusan berkata tentang perasaanya.

“Kamu ga berusaha menggubungiku dan pergi gitu aja, itu yang namanya sayang?”

Wajahku menndongkak berusaha menatap matanya, ia bergeming di tempat. Lalu terduduk di pasir putih yang dingin ini. aku mengikuti gerakannya, ikut terduduk di depannya.

“Ji, kamu tahu selama ini aku tersiksa tanpa kamu, tanpa tahu kabar kamu, tanpa tahu apakah kamu masih memikirkan aku. Ditambah kehidupanku yang sedang di bawah setelah Ayah ku mengusir aku dari rumah memperburuk semuanya, ga mudah bagi aku” ia berucap dengan suara gemetar, kulihat matanya sudah di penuhi air mata.

Ia melepaskan genggaman tangannya.

“Di sini,” tambahnya sambil menempatkan tangannya tepat di dada itu,

“Kamu selalu ada, rasa sakit itu berkali lipat saat aku tahu kita ga mungkin bersama Ji,”

Suaranya pecah di kesunyian malam yang membekam, kami terisak. Saling menguatkan satu sama lain.

“Aku ga bisa lupain kamu gitu aja Ji, seberapa lama lagi aku butuh waktu untuk menghapus semua kenangan ini. 10 tahun bukan waktu yang singkat,”

“Nyatanya aku masih membutuhkan waktu lebih lama,” ucapnya lagi

“Aku ngerti banget, ini bukan salah kita. Walau berat bagi aku, tapi aku bahagia kamu menemukan Amel, wanita yang luar biasa, dan selalu menemani kamu disaat kamu lagi terpuruk,” aku menguatkannya dengan kata-kata yang bisa aku rangkai.

“Jimin, hati ga bisa memilih, ia tahu kemana harus berlabuh, percaya sama aku.”

“Kita bisa bahagia dengan jalan masing-masing,” tandasku lagi, sambil mengusap air matanya yang sedari tadi jatuh.

Kata-kata yang aku ucapkan menghantam dadaku menimbulkan rasa sakit yang amat sangat sampai aku kehilangan kemampuan untuk bernapas. Semuanya terlalu menyakitkan.

Fakta bahwa Amel wanita baik-baik menambah dua kali lipat rasa sakit itu dan sekarang menjalar ke seluruh tubuhku.

Tidak, mustahil aku menyakitinya.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarjana Terapan Kebidanan + Pendidikan Profesi

Pengalaman di Behel diklinik gigi Audy Dental Bandung

Mimpi dan target. Apa bedanya?