TEMARAM; Knj
[Oneshoot Kim Namjoon]
[contain some mature and triggering content]
18+
TEMARAM-
"Cinta itu sederhana, jika kamu tidak mampu membuatnya tertawa,
cukup tidak membuatnya terluka."
***
“SIALAN! MATI SANA!
MAMPUS!”
Lengkingan itu
terdengar keras, penuh kebencian dan tentunya memenuhi indera pendengaranku. Aku
bahkan terlalu lelah untuk membuka mata, sekedar melihat dan memandang wajah
bajingan yang sekarang sedang menendang perutku kuat-kuat.
Rasanya hari ini hari
terakhirku menghirup nafas, sepertinya, sebelum semuanya gelap.
***
Mataku mengerjap cepat,
rasanya seperti ada batu yang menghalangiku untuk sekedar membuka mata. Cahaya lembut
matahari langsung memasuki dan membelai mataku lembut, seolah hari ini akan
baik-baik saja.
Kukira aku sudah mati,
nyatanya bayangan seseorang yang aku kenal menghalangi pandanganku. Pria berkepala
pelontos dan bertubuh gempal seperti babi itu sekarang di depanku, seakan sudah
menungguku siuman untuk waktu yang cukup lama.
“Cepat bangun kamu,
syukurlah kamu ga mati,”
Masih dengan mata
setengah terbuka, aku mendengar si gendut ini mengoceh pelan. Ia tidak
mengatakan apa-apa lagi setelah melihat aku mengkgerjapkan mata perlahan. Lalu menyimpam
satu gelas air putih di meja kecil yang berada persis di samping tempat tidur
bututku.
Aku menringis ketika
tubuh ini ku bawa untuk sekedar duduk dan bersandar. Si brengsek itu nyatanya
selalu tidak merasa bersalah sama sekali setelah melakukan ini padaku.
Aku rasasakan pipiku
basah oleh air mata yang tiba-tiba terjatuh, bulir-bulirnya terasa asin di
lidahku. Bagaimanapun aku tidak punya tempat pulang dan berteduh selain rumah
ini, namun sepertinya lebih pantas aku sebut sebagai gubuk. Gubuk derita lebih
tepatnya.
Sudah lima tahun
setelah kepergian ibu ke alam lain, aku harus tinggal bersama paman tiriku yang
brengsek. Bukan hanya wajahnya yang seperti kurcaci saking jeleknya, namun
perlakuannya dan perkataanya sangat busuk.
Sudah kesekian kalinya
aku menjadi sasaran amarahnya ketika ia sedang mengalami kesialan dalam
berjudi. Ditambah alcohol yang selalu ia teguk tiap malam membuatnya semakin
beringas dan memukuliku tanpa keraguan.
Ku tahan sakit yang
amat sangat ini, untuk beranjak ke arah cermin yang tak jauh di sisi pintu
kamar jelek ini.
Cermin di depanku
keadaanya sudah Nampak menghawatirkan, seperti seseorang yang sekarang ada di
hadapanku.
Wajahnya yang tak
cantik semakin jelas terlihat ketika bekas kebiruan tergambar jelas di bawah
matanya.
Nyatanya kemarin malam
usahaku untuk melindungi wajahku dengan tangan sia-sia belaka, ketika sandal jepitnya
yang butut itu mengenai mata ku, menghasilkan kebiruan yang tampak jelas.
Kualihkan pandanganku
untuk mengecek keadaan perutku yang terasa sangat sakit, menyibakan kaos kummel
ini perlahan aku melihat luka kebiruan sepanjang tulang rusuk ku nyaris sampai
ulu hati.
Dengan keadaan seperti
ini nyatanya aku harus menghubungi pemilik took roti itu untuk ijin selama dua
hari, semoga dalam dua hari luka-luka sialan ini akan segera memudar.
***
“ANJING!”
Aku memaki kasar,
sambil membanting pintu lomari yang keadanya sudah sangat berantakan. Si
brengsek itu pasti sudah mengambil seluruh tabunganku yang sudah aku tabung
beberapa bulan ini.
Aku sudah tidak tahan
lagi, malam ini aku harus memberinya pelajaran. Walaupun mungkin aku akan mati
nanti ditangannya. Dengan baju seadanya, mengenakan ripped jeans dan juga kaos hitam disertai kameja dan juga topi di
kepalaku, aku melangkah keluar rumah dengan penuh emosi.
Langkah kakiku kubuat
lebar-lebar, pikiranku sudah tidak karuan. Uang itu harus kembali, aku
meyakinkan hal itu dalam otaku. Sehingga keberanian dari mana aku menghampiri
si jalang jantan itu di markasnya.
Sesampainya di tempat
laknat itu mataku mengamati beberapa orang yang berkerumun, tak butuh waktu
lama mataku mendeteksi tubuh gempalnya yang mirip babi. Ku Tarik napas gusar,
aku harus berani kali ini.
“Bangsat, kembalikan
uangku,”
Ia masih tidak
bergeming, sepertinya belum sadar panggilan itu ditujukan untuknya.
“JAMAL ANJING!”
jeritku, sudahlah memang ketakutanku selama ini kepadanya harus segera ku
sudahi.
Kerumunan itu menoleh
ke arahku, mereka menatapku bingung. Aku berjalan cepat ke depan, mataku tetap
menampakan ke kekesalan.
“Kembalikan uangku, “
ujarku cepat, sebelum ia kembali kepada aktifitasnya.
Mereka semua saling
memandang satu sama lain, sebelum pria tua berkameja putih ini berbicara
“Wah ternyata si gendut
ini mengguankan uang adiknya, wah kamu sudah jatuh miskin ya.” Ledeknya di hadapan si keparat Jamal ini.
Wajahnya sudah memerah, antara kekesalan dan malu yang harus ia tanggung.
“Mana uangku brengsek,
kamu seenaknya saja mengambilnya.” Tambahku lagi, berusaha mengambil uang yang
sedang ia pegang sekarang.
Jamal tak tinggal diam,
ia berusaha menghindar dari jangkauanku, sekarang kami seperti anak kecil yang
sedang memperebutkan mainan.
Kudengar orang-orang
disini meriuh, menyoraki seakan ini adalah pertunjukan yang menarik.
Aku berusaha memukul
perutnya yang berlemak itu, namun usahku sia-sia ia terlalu kuat. Sialan.
Aku berusaha tetap
mempertahankan keseimbanganku dan melawannya, namun yang terjadi ia menarik
rambutku kuat-kuat menyingkirkan topi hitam yang tadi ku kenakan.
“Jalang sialan, kamu
harusnya bersyukur sudah aku sediakan rumah, dasar PELACUR!”
Katanya tepat
ditelingaku, dan yang di iringi teriakan riuh orang-orang di belakangku.
Plak
Plak
Tamparan keras yang ia
layangkan tepat di pipiku, aku menutup mata menringis, dengan rambut yang masih
di Tarik. Tidak sampai di situ ia menyeretku keluar dari tempat ini. mereka
yang melihat bukan menolong, malah menyuraki.
“Lihat apa yang akan
aku lakukan padamu jalang!”
Aku tidak membalas,
hanya bisa menghela nafas dan mempersiapkan jiwa serta fisikku kalo-kalo ia
akan menhilangkan nyawaku.
Ia terus menariku, kulit kepalaku seperti hampir akan terkelupas
karena tarikan dari si brengsek.
Setelah beberapa menit
yang menyiksa, tubuhku di lemparkan ke depan pintu yang sedang di jaga oleh dua
orang berbadan besar yang pakaiannya serba hitam ini. Aku tersungkur setelah ia
melemparku dengan kasar
“Aku membawa barang,
ijinkan aku masuk,” ucapnya, sambil membisikan sesuatu ke pria di didepannya.
Perkataanya tidak bisa aku dengar.
Aku melihat sekitar,
ternyata sebuah pub mewah yang di
depannya terparkir banyak sekali mobil mewah yang tidak aku kenali mereknya.
Lamunanku buyar ketika
dengan kasar ia menarik tanganku untuk bangkit dan ikut bersamanya.
Didalam sini bunyi music
terdengar keras, kupingku sakit karena belum terbiasa. aku pun tidak bisa
melihat dengan jelas karena lampu dan keadaan pub.
“Lepasin anjing, mau
kamu apakan aku? Hah ? bunuh aja aku sekarang!” teriaku, di depan mukanya.
Aku sudah pasrah,
sangat pasrah apapun yang si bajingan ini akan lakukan, nyatanya memang akan
membunuh ku perlahan.
Tubuhku sudah tidak
merasakan apa-apa lagi, kakiku sudah tidak kuat lagi menopang tubuhku. Wajahku
tentunya sudah seperti badut sekarang. Mustahil ia akan menjualku disini. Mana ada
yang tertarik dengan barang yang penampilannya saja tidak menarik.
Namun nyatanya aku
salah, satu pria jangkung yang wajahnya belum jelas ku lihat menghampiri kami
berdua.
Lampu dan keadaan pub
ini temarang dan itu menyulitkanku untuk mengenali sosoknya.
Setelah berkenalan
keduanya lantas mengambil tempat untuk mengobrol di ujung meja pub ini. Untuk
menghindari aku menguping rupanya.
Si pria ini berusaha
mengobrol dengan si brensek ini entah apa yang sedang mereka bicarakan. Namun yang
pasti dalam hati aku berdoa semoga dia adalah pangeran berkuda yang
menyelamatan aku dari si brengsek ini.
***
Aku masih membeku
memandangi diriku di cermin, apakah ini seorang wanita yang dulu bekerja di
sebuah toko roti kecil di pinggiran kota?
Apakah ini yang
sekarang ada di cermin itu wanita yang dulu di sekujur tubuhnya selalu
menampakan memar? Ah sialan
Bayangan seorang lelaki
dengan tubuh tegap itu sekarang tengah berdiri di belakangku, jasnya yang sudah
ia simpan di tangan serta kemeja yang digulungnya sampai ke siku membuat ia
seratus kali lebih tampan.
“Maaf, kalo aku lancang
sudah mencoba baju ini.” cicitku gugup, aku tidak berekspektasi ia akan pulang
sesiang ini.
“Aku sengaja membelikan
itu untukmu, “
Tubuhku berbalik
memanghapnya, ia tersenyum simpul.
Nyatanya pangeran yang
aku dambakan untuk menyelamatkanku bukan dia, nyatanya dia tidak meyia-nyiakan
apa yang sudah di beli. Hatiku kembali merasa tak enak.
“Di kantor aku tidak
bisa berhenti memikirkanmu,”
Ia mendekat ke arahku, matanya
tidak ia palingkan barang sedetik. Melemparkan jas yang tadi ditangannya
kemudian berujar pelan,
“Kau cantik menggunakan
baju ini, tidak salah aku membelikannya,”
Sekarang ia semakin
meniadakan jarak di antara kita, dan yang selanjutnya ia mendongkakan wajahku
ke arahnya dan menyatukan bibir kami.
Aku membenci ini,
nyatanya kegiatan yang kami lakukan sekarang sudah seperti rutinitas. Dulu saat
aku datang ke apartemen ini tentunya aku tidak langsung menyetujui gagasan itu,
namun setelah beberapa hari berlalu aku menikmatinya. Sialan memang.
Ia memperdalam ciuman
kami, tangannya memegang belakang kepalaku mamastikan ciuman kami semakin dalam
dan panas. Saliva kami sudah saling bertukar di dalam mulut masing-masing.
Tangan kanannya ia
pergunakan untuk meremas bokongku pelan, aku mengerang ketika ia berhasil
meremasknya. Dan hal itu semakin membuat kami semakin tenggelam dalam kegiatan
ini.
Tangannya sekarang
tidak tinggal diam, setelah melepaskan ciuman kami. Ia membuka resleting baju
ini dengan tergesa-gesa, seperti biasa.
Aku membantunya
mempermudah pekerjaannya, setelah melepaskan semua yang melekat di badanku, ia
mengangkatku dan membuat aku melingkarkan kakiku ke sekitaran pinggangnya. Tak lama
tubuhku mendarat di kasur megah ini.
Gerakan nya cepat untuk
membuka kemeja putih yang ia kenakan, setelah itu kembali menciumi cekungan
leherku dalam.
“Ughh Namjoon,” kataku
penuh frustasi
“Aku bukan Namjoon baby,” katanya menimpali dengan nada tak
kalah parau.
“Hmm yeah sir,” kataku memperbaiki
panggilannya ketika kami sedang bercinta.
Semuanya terlalu cepat,
kami melakukannya seperti rutinitas biasa, tidak ada kata cinta yang membuat
ini semakin berkesan. Nyatanya aku memang perempuan yang ia beli untuk mengisi
kekosongannya di malam hati.
Kakiku sudah lemas
ketika hampir dua ronde kami melakukannya, aku tidak tahu apakah pria lain
setahan dia. Sungguh, sebenarnya pertama kali aku mengenalnya aku tidak peduli,
namun nyatanya kebersamaan kami yang membuat semuanya begitu sulit sekarang.
Setelah selesai, ia
ambruk di sampingku. Peluh menetes di kulitnya yang putih, kontras sekali
denganku yang mempunyai kulit kuning langsat dan tidak seputih dirinya.
“Kamu memang yang
terbaik, “ ucapnya sebelum semuanya kembali sunyi.
***
“Ah aku lupa menaruh
jam tanganku, semalam di simpan dimana ya El?”
Namjoon bertanya untuk
yang kedua kalinya, selama beberapa bulan tinggal dengannya aku baru menyadari
bahwa ia mempunyai sifat pelupa yang kronis.
Tentu saja hanya
gelengan yang ia terima, namun aku pun lantas membantunya mencari.
Setelah beberapa menit,
nyatanya jam tangan yang ia cari sudah berada di saku celananya.
Kami sempat tertawa terpingkal-pingkal
bersama, entahlah kegatan kecil seperti ini nyatanya sudah menjadi rutiniras
bagi kami berdua, hatiku kembali di dera perasaan aneh. Tidak boleh, aku tidak
boleh terbiasa dengan rutinitas ini. karena cepat atau lambat, aku harus
kembali ke duniaku.
Setelah makan sarapan
yang aku buat ala kadarnya, ia kemudia berpamitan namun sebelum Ia benar-benar
pergi, aku perhatikan ia seperti berfikir sejenak sebelum berbalik ke arahku
dan mencium keningku.
Tubuhku kaget dengan
perlakuan tiba-tiba yang tidak biasa ia lakukan,
“Mulai hari ini
ingatkan aku untuk mengecup keningmu ya,” lanjutnya sebelum pergi meninggalkan
pintu.
Aku tak paham dengan
perlakuanya, kenapa Namjoon tidak memperlakukanku seperti orang asing saja? Kenapa
harus bersifat lembut. Aku takut sekali menaruh perasaan padanyaa, walaupun
sebenarnya aku sudah menaruhnya. Persetan dengan segala perbedaan kami.
Nyatanya perlakuan
manisnya membuatku tertarik lebih dalam. Sudah dua bulan kami tinggal bersama
dan melakukan aktifitas seperti pasangan pada umumnya, walaupun dimatanya aku
adalah seorang wanita penghibur.
Setelah membereskan
kamar dan piring yang tadi kami gunakan aku berniat pergi berjalan-jalan ke
luar sebentar. Sekedar menghirup napas bebas. Membebaskan hatiku dari beberapa
ketakutan.
***
Hujan yang turun
tiba-tiba membuatku terjebak di salah satu café nyaman di pinggiran kota,
sekarang aku sedang duduk di dekat pintu café ini. Memandangi para pembeli yang
datang silih berganti.
Mataku tiba-tiba
terbuka lebar ketika satu sosok yang aku kenal berjalan keluar dari mobil sembari
membawa payung, lalu berlari kecil membuka pintu di sebelahnya.
Seorang wanita dengan
rambut coklat sebahu dan ber dress abu keluar sambil mengandeng tangannya. Mataku
membulat ketika mengetahui dress yang wanita itu kenakan, sama persis seperti
yang kemarin aku coba. Sama persis
Batinku sesak, tentunya
itu kenyataan pahit yang harus kuterima. Menamparku kembali kedunia, siapa aku
bermimpi bersanding dengannya.
Mataku masih mengamati
pergerakan keduanya. Setelah memasuki café Mereka lantas duduk di pojok café dekat
kaca, sampai saat ini keduanya tidak menyadari keberadaanku.
Wanita itu tidak
canggung-canggung mencium pipi Namjoon pelan, ketika sebelumnya ia tertawa
dengan lepas.
Cubitan-cubitan kecil
pun wanita itu layangkan ke lengan yang setiap malam mencekik leherku dan memeberikan kenikmatan.
Saat ini semesta seperti
menyadarkanku dengan hujan yang turun, langin yang gelap dan juga cuaca yang
dingin. Semua yang aku miliki adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja,
seharusnya memang dari awal aku tidak menaruh ekspektasi apa-apa. Bajingan.
Hati dan otaku sudah
tidak kuat lagi menyaksikan dua sejoli ini saling melempar candaan dan tertawa.
Buru-buru aku bangkit
dari kursi ini namun sialnya saking buru-burunya aku tidak memperhatikan
jalanan dan menabrak pelayan kafe yang sedang membawa dua gelas minuman,
alhasil suara pecahan terdengar di seluruh café ini.
Dan benar saja, yang
aku takutkan terjadi, sekarang ia tengah memandangiku dengan mata coklat
gelapnya, ia tidak berekspresi. Aku pikir ia akan menghampiriku atau apa,
nyatanya ia memalingkan muka dan kembali tenggelam dengan kegiatanya bersama
wanita itu.
***
“Namjoon, boleh aku
bertanya?” aku berucap takut-takut,
Namjoon melirik dibalik
kacamatanya, sekarang ia tengah berada di ruang tamu dan mengerjakan sesuatu di
laptopnya.
Hanya gumaman pelan
yang ia tunjukan.
“Siapa wanita yang
bersama kamu seminggu yang lalu?”
Benar, sudah seminggu
berlalu dan sejak itu kami seperti menjaga jarak satu sama lain, dan ia
mendekat hanya ketika ia memintaku untuk bertelanjang didepannya.
“Calon istriku,”
tandasnya cepat, kata-katanya langsung menusuk hati.
Aku mematung sebentar
berusaha menyadarkan jiwa dan pikiranku kembali ke dunia. Sikapnya berubah,
tentu saja. Kedekatan kami belakangan ini hanya sebatas pelarian.
“Kapan kalian akan
menikah?” tanyaku lagi,
Aku beranikan untuk
duduk di sampingnya, ia melirik sekilas dengan ekspresi tak terbaca.
“Belum tahu, yang pasti
bukan tahun ini, ia masih sibuk dengan urusan perusahan Ayah nya,” jelasnya
lagi, tangannya lalu memindahkan laptop itu dari hadapannya.
Lalu melepaskan
kacamatanya cepat, setelah itu ia menepuk-nemuk pangkuannya yang kosong, aku
tersenyum simpun lalu duduk di pangkuannya.
“Kamu cantik, matamu
mengingatkan ku pada dia,” deg, aku sudah tidak tahu berapa kali perasaanku
tersayat dengan kata-katanya. Semuanya jelas, ia memang mencari hal yang tidak
bisa di dapatkan dari calon istrinya.
“Dia?” aku berusaha
membuka suara.
“Namanya Kim Devi,
calon istriku,”
Aku mengangguk paham
berusaha menyembunyikan kepedihan yang sudah berada di ubun-ubun.
“Aku berniat menjadikan
kamu housekeeper di rumah kami
setelah kami resmi menikah,” tandasnya
yakin.
Aku benar-benar
kehilangan kata-kata, apa yang pria ini maksud? Menjadikanku housekeeper dan membuatku berfikir harus
berapa lama aku menahan kesakitan ini?
Aku tidak menjawab,
hanya ciuman yang aku berikan, ciuman amarah yang tidak bisa aku keluarkan
sejak seminggu ini, karena aku tidak mempunyai alasan untuk itu. Siapala aku
dibandingkan wanita berkelas yang akan menjadi istrinya.
Aku memberinya
ciuman-ciuman yang tidak lembut, menariknya semakin dalam. Ssetidaknya aku
sudah merasakan dia berada dalam miliku. Aku berusaha menenangkan hati.
“Ugh Elsi…” racaunya
ketika aku berhasil mengelus kejantananya di bawah sana yang mulai mengeras.
Aku tersenyum sekilas,
merasa puas dengan apa yang aku lakukan sekarang, bukan hanya itu sekarang aku
sedang berusaha membuka celana santainya. Ia menyeringai ke arahku buru-buru mengangkat
pinggangnya dan menurunkan celana juga boxernya.
Gundukan itu sudah di
depan mataku sekarang, tanpa membuang waktu aku mengelusnya pelan. Ia semakin
mengerang di atas sana. Kepalanya ia Tarik kebelakang saat lidahku menyentuh bagian
ujung dari kejantannanya.
Sialan amarahku
sekarang memang benar-benar menguasai buktinya tidak menunggu lama untuk memasukannya
ke dalam mulutku.
Ia menarik rambutku
pelan, sambil berusaha menggerakan pinggangnya ke arahku.
***
Berada di ruangan megah
membuat kepalaku ku pusing, sudah sekitar sejam yang lalu aku terduduk dengan
seorang wanita disampingku, namanya Nani, senyumannya ramah. Ia satu-satunya
tamu undangan yang menyapaku.
Ironis memang, seharunya
aku tidak menuruti keinginan Namjoon untuk menghadiri acara pernikahannya.
“Kamu ga papa? Kamu pucat
banget Elsi,” ia menepuk bahu ku pelan, menyadarkanku kembali kedunia.
Aku menggeleng cepat.
Ia terdiam sebentar, “Aku
anter ke dokter yuk , kebetulan rumah sakit dekat sini” paksanya. Untuk beberapa
menit aku mematung, namun Nani benar, tubuhku semakin lama semakin lemas. Aku mengangguk
pelan.
Kami berdua berjalan ke
arah pintu luar hotel megah ini, tamu undangan sudah terlihat memadati
parkiran. Hatiku kembali mencelos, mengingat perkataan Namjoon semalam,
“Mungkin
aku bukan yang terbaik bagimu, menjadi seseorang yang terus berada di sisimu
bukan tugasku, namun aku ingin malam ini menghabiskan waktu bersama kamu,
merasakan kebahagian yang menjalar sampai hatiku, sebelum kita benar-benar
berpisah.”
Perkataanya sukses
membuatku menangis tersedu-sedu setelah kepergiannya dari apartemen yang biasa
kami tinggali.
Pikiranku sedang tidak
fokus ketika tangan kecil Nani menyentuh kembali pundakku.
Tak terasa kami sudah
berada di depan pintu rumah sakit, namun bau rumah sakit yang menyegak langsung
memasuki indra penciumanku. Rasa pusing itu semakin kuat, tak lama kakiku lemas
dan semuanya gelap.
***
Tanganku di genggam
lembut oleh seseorang, elusannya membuatku nyaman. Hatiku menghangat tiba-tiba.
Entah siapa pemilik tangan ini namun sepertinya aku tidak mengenalinya.
Aku sekuat tenaga
membuka mata, walaupun kepalaku sperti di timpa batu, hati-hati aku menatap ke
sebelahku.
Disana sudah ada wajah
dengan senyuman ramahnya. Nani. Aku membalas tersenyum walaupun bayangannya
masih samar di penglihatanku. Kami memang belum lama kenal, namun ia berujar ia
adalah teman dari sepupunya Namjoon, itulah alasan kenapa ia bisa sampai di
pernikahan megah itu.
Senyumannya semakin
lebar takala aku benar-benar membuka mataku lebar-lebar.
“Berbaring aja kalo masih
pusing, jangan buru-buru.” Ucapnya lembut sambil membantu menata bantal untukku
dijadikan sandaran.
“Aku ikut bahagia,”
sambungya, masih dengan wajah yang ceria
Aku mengernyitkan dahi
tidak paham dengan apa yang coba ia utarakan.
“Jadi siapa Ayahnya?”
kembali aku dibuat bingung olehnya. Ayah? Siapa? Ikut berbahagia?
Namun otaku cepat
menangkap maksud dari perkataanya, dan detik
berikutnya membuat duniaku seolah-olah runtuh seketika. Aku? Hamil?
Namun detik selanjutnya
apa yang ia ucapkan menjelaskan semuanga,
“Selamat, kata dokter
kamu hamil,”
Aku membeku, mencoba
mencerna pekataan yang Nani lontarkan. Tuhan ! kenapa Tuhan tidak membiarkanku bahagia. Aku ingin sekali menjalani
hidup bahagia seperti orang lain, menjalani hidup tanpa trauma masa lalu,
merasakan di cintai seperti orang-orang beruntung di dunia ini? kenapa hal itu
sulit sekali aku dapat.
Sekarang aku tidak tahu
harus bagaimana, Namjoon bagaimana ini? aku terlalu bodoh dan tidak tahu harus
berbuat apa. Kamu baru saja menikah, mana mungkin aku mambawa kabar buruk ini. Tuhan
bagaimana ini?
Pertanyaan demi
pertanyaan memenuhi pikiranku sampai-sampai apa yang dikatakan Nani tidak bisa
aku cerna sepenuhnya. Duniaku kembali hancur, berbalik seperti sedia kala. Apa yang
harus aku lakukan dengan bayi ini.

Aaaaaa lanjut😭
BalasHapus