TEMARAM; Knj


[Oneshoot Kim Namjoon]

[contain some mature and triggering content]

18+

 

Bahasa indonesia   






TEMARAM-

"Cinta itu sederhana, jika kamu tidak mampu membuatnya tertawa, cukup tidak membuatnya terluka."

***

“SIALAN! MATI SANA! MAMPUS!”

Lengkingan itu terdengar keras, penuh kebencian dan tentunya memenuhi indera pendengaranku. Aku bahkan terlalu lelah untuk membuka mata, sekedar melihat dan memandang wajah bajingan yang sekarang sedang menendang perutku kuat-kuat.

Rasanya hari ini hari terakhirku menghirup nafas, sepertinya, sebelum semuanya gelap.

***

Mataku mengerjap cepat, rasanya seperti ada batu yang menghalangiku untuk sekedar membuka mata. Cahaya lembut matahari langsung memasuki dan membelai mataku lembut, seolah hari ini akan baik-baik saja.

Kukira aku sudah mati, nyatanya bayangan seseorang yang aku kenal menghalangi pandanganku. Pria berkepala pelontos dan bertubuh gempal seperti babi itu sekarang di depanku, seakan sudah menungguku siuman untuk waktu yang cukup lama.

“Cepat bangun kamu, syukurlah kamu ga mati,”

Masih dengan mata setengah terbuka, aku mendengar si gendut ini mengoceh pelan. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi setelah melihat aku mengkgerjapkan mata perlahan. Lalu menyimpam satu gelas air putih di meja kecil yang berada persis di samping tempat tidur bututku.

Aku menringis ketika tubuh ini ku bawa untuk sekedar duduk dan bersandar. Si brengsek itu nyatanya selalu tidak merasa bersalah sama sekali setelah melakukan ini padaku.

Aku rasasakan pipiku basah oleh air mata yang tiba-tiba terjatuh, bulir-bulirnya terasa asin di lidahku. Bagaimanapun aku tidak punya tempat pulang dan berteduh selain rumah ini, namun sepertinya lebih pantas aku sebut sebagai gubuk. Gubuk derita lebih tepatnya.

Sudah lima tahun setelah kepergian ibu ke alam lain, aku harus tinggal bersama paman tiriku yang brengsek. Bukan hanya wajahnya yang seperti kurcaci saking jeleknya, namun perlakuannya dan perkataanya sangat busuk.

Sudah kesekian kalinya aku menjadi sasaran amarahnya ketika ia sedang mengalami kesialan dalam berjudi. Ditambah alcohol yang selalu ia teguk tiap malam membuatnya semakin beringas dan memukuliku tanpa keraguan.

Ku tahan sakit yang amat sangat ini, untuk beranjak ke arah cermin yang tak jauh di sisi pintu kamar jelek ini.

Cermin di depanku keadaanya sudah Nampak menghawatirkan, seperti seseorang yang sekarang ada di hadapanku.

Wajahnya yang tak cantik semakin jelas terlihat ketika bekas kebiruan tergambar jelas di bawah matanya.

Nyatanya kemarin malam usahaku untuk melindungi wajahku dengan tangan sia-sia belaka, ketika sandal jepitnya yang butut itu mengenai mata ku, menghasilkan kebiruan yang tampak jelas.

 

Kualihkan pandanganku untuk mengecek keadaan perutku yang terasa sangat sakit, menyibakan kaos kummel ini perlahan aku melihat luka kebiruan sepanjang tulang rusuk ku nyaris sampai ulu hati.

Dengan keadaan seperti ini nyatanya aku harus menghubungi pemilik took roti itu untuk ijin selama dua hari, semoga dalam dua hari luka-luka sialan ini akan segera memudar.

***

“ANJING!”

Aku memaki kasar, sambil membanting pintu lomari yang keadanya sudah sangat berantakan. Si brengsek itu pasti sudah mengambil seluruh tabunganku yang sudah aku tabung beberapa bulan ini.

Aku sudah tidak tahan lagi, malam ini aku harus memberinya pelajaran. Walaupun mungkin aku akan mati nanti ditangannya. Dengan baju seadanya, mengenakan ripped jeans dan juga kaos hitam disertai kameja dan juga topi di kepalaku, aku melangkah keluar rumah dengan penuh emosi.

Langkah kakiku kubuat lebar-lebar, pikiranku sudah tidak karuan. Uang itu harus kembali, aku meyakinkan hal itu dalam otaku. Sehingga keberanian dari mana aku menghampiri si jalang jantan itu di markasnya.

Sesampainya di tempat laknat itu mataku mengamati beberapa orang yang berkerumun, tak butuh waktu lama mataku mendeteksi tubuh gempalnya yang mirip babi. Ku Tarik napas gusar, aku harus berani kali ini.

“Bangsat, kembalikan uangku,”

Ia masih tidak bergeming, sepertinya belum sadar panggilan itu ditujukan untuknya.

“JAMAL ANJING!” jeritku, sudahlah memang ketakutanku selama ini kepadanya harus segera ku sudahi.

Kerumunan itu menoleh ke arahku, mereka menatapku bingung. Aku berjalan cepat ke depan, mataku tetap menampakan ke kekesalan.

“Kembalikan uangku, “ ujarku cepat, sebelum ia kembali kepada aktifitasnya.

Mereka semua saling memandang satu sama lain, sebelum pria tua berkameja putih ini berbicara

“Wah ternyata si gendut ini mengguankan uang adiknya, wah kamu sudah jatuh miskin ya.”  Ledeknya di hadapan si keparat Jamal ini. Wajahnya sudah memerah, antara kekesalan dan malu yang harus ia tanggung.

“Mana uangku brengsek, kamu seenaknya saja mengambilnya.” Tambahku lagi, berusaha mengambil uang yang sedang ia pegang sekarang.

Jamal tak tinggal diam, ia berusaha menghindar dari jangkauanku, sekarang kami seperti anak kecil yang sedang memperebutkan mainan.

Kudengar orang-orang disini meriuh, menyoraki seakan ini adalah pertunjukan yang menarik.

Aku berusaha memukul perutnya yang berlemak itu, namun usahku sia-sia ia terlalu kuat. Sialan.

Aku berusaha tetap mempertahankan keseimbanganku dan melawannya, namun yang terjadi ia menarik rambutku kuat-kuat menyingkirkan topi hitam yang tadi ku kenakan.

“Jalang sialan, kamu harusnya bersyukur sudah aku sediakan rumah, dasar PELACUR!”

Katanya tepat ditelingaku, dan yang di iringi teriakan riuh orang-orang di belakangku.

Plak

Plak

Tamparan keras yang ia layangkan tepat di pipiku, aku menutup mata menringis, dengan rambut yang masih di Tarik. Tidak sampai di situ ia menyeretku keluar dari tempat ini. mereka yang melihat bukan menolong, malah menyuraki.

“Lihat apa yang akan aku lakukan padamu jalang!”

Aku tidak membalas, hanya bisa menghela nafas dan mempersiapkan jiwa serta fisikku kalo-kalo ia akan menhilangkan nyawaku.

Ia terus menariku,  kulit kepalaku seperti hampir akan terkelupas karena tarikan dari si brengsek.

Setelah beberapa menit yang menyiksa, tubuhku di lemparkan ke depan pintu yang sedang di jaga oleh dua orang berbadan besar yang pakaiannya serba hitam ini. Aku tersungkur setelah ia melemparku dengan kasar

“Aku membawa barang, ijinkan aku masuk,” ucapnya, sambil membisikan sesuatu ke pria di didepannya. Perkataanya tidak bisa aku dengar.

Aku melihat sekitar, ternyata sebuah pub mewah yang di depannya terparkir banyak sekali mobil mewah yang tidak aku kenali mereknya.

Lamunanku buyar ketika dengan kasar ia menarik tanganku untuk bangkit dan ikut bersamanya.

Didalam sini bunyi music terdengar keras, kupingku sakit karena belum terbiasa. aku pun tidak bisa melihat dengan jelas karena lampu dan keadaan pub.

“Lepasin anjing, mau kamu apakan aku? Hah ? bunuh aja aku sekarang!” teriaku, di depan mukanya.

Aku sudah pasrah, sangat pasrah apapun yang si bajingan ini akan lakukan, nyatanya memang akan membunuh ku perlahan.

Tubuhku sudah tidak merasakan apa-apa lagi, kakiku sudah tidak kuat lagi menopang tubuhku. Wajahku tentunya sudah seperti badut sekarang. Mustahil ia akan menjualku disini. Mana ada yang tertarik dengan barang yang penampilannya saja tidak menarik.

Namun nyatanya aku salah, satu pria jangkung yang wajahnya belum jelas ku lihat menghampiri kami berdua.

Lampu dan keadaan pub ini temarang dan itu menyulitkanku untuk mengenali sosoknya.

Setelah berkenalan keduanya lantas mengambil tempat untuk mengobrol di ujung meja pub ini. Untuk menghindari aku menguping rupanya.

Si pria ini berusaha mengobrol dengan si brensek ini entah apa yang sedang mereka bicarakan. Namun yang pasti dalam hati aku berdoa semoga dia adalah pangeran berkuda yang menyelamatan aku dari si brengsek ini.

***

Aku masih membeku memandangi diriku di cermin, apakah ini seorang wanita yang dulu bekerja di sebuah toko roti kecil di pinggiran kota?

Apakah ini yang sekarang ada di cermin itu wanita yang dulu di sekujur tubuhnya selalu menampakan memar? Ah sialan

Bayangan seorang lelaki dengan tubuh tegap itu sekarang tengah berdiri di belakangku, jasnya yang sudah ia simpan di tangan serta kemeja yang digulungnya sampai ke siku membuat ia seratus kali lebih tampan.

“Maaf, kalo aku lancang sudah mencoba baju ini.” cicitku gugup, aku tidak berekspektasi ia akan pulang sesiang ini.

“Aku sengaja membelikan itu untukmu, “

Tubuhku berbalik memanghapnya, ia tersenyum simpul.

Nyatanya pangeran yang aku dambakan untuk menyelamatkanku bukan dia, nyatanya dia tidak meyia-nyiakan apa yang sudah di beli. Hatiku kembali merasa tak enak.

“Di kantor aku tidak bisa berhenti memikirkanmu,”

Ia mendekat ke arahku, matanya tidak ia palingkan barang sedetik. Melemparkan jas yang tadi ditangannya kemudian berujar pelan,

“Kau cantik menggunakan baju ini, tidak salah aku membelikannya,”

Sekarang ia semakin meniadakan jarak di antara kita, dan yang selanjutnya ia mendongkakan wajahku ke arahnya dan menyatukan bibir kami.

Aku membenci ini, nyatanya kegiatan yang kami lakukan sekarang sudah seperti rutinitas. Dulu saat aku datang ke apartemen ini tentunya aku tidak langsung menyetujui gagasan itu, namun setelah beberapa hari berlalu aku menikmatinya. Sialan memang.

Ia memperdalam ciuman kami, tangannya memegang belakang kepalaku mamastikan ciuman kami semakin dalam dan panas. Saliva kami sudah saling bertukar di dalam mulut masing-masing.

Tangan kanannya ia pergunakan untuk meremas bokongku pelan, aku mengerang ketika ia berhasil meremasknya. Dan hal itu semakin membuat kami semakin tenggelam dalam kegiatan ini.

Tangannya sekarang tidak tinggal diam, setelah melepaskan ciuman kami. Ia membuka resleting baju ini dengan tergesa-gesa, seperti biasa.

Aku membantunya mempermudah pekerjaannya, setelah melepaskan semua yang melekat di badanku, ia mengangkatku dan membuat aku melingkarkan kakiku ke sekitaran pinggangnya. Tak lama tubuhku mendarat di kasur megah ini.

Gerakan nya cepat untuk membuka kemeja putih yang ia kenakan, setelah itu kembali menciumi cekungan leherku dalam.

“Ughh Namjoon,” kataku penuh frustasi

“Aku bukan Namjoon baby,” katanya menimpali dengan nada tak kalah parau.

“Hmm yeah sir,” kataku memperbaiki panggilannya ketika kami sedang bercinta.

Semuanya terlalu cepat, kami melakukannya seperti rutinitas biasa, tidak ada kata cinta yang membuat ini semakin berkesan. Nyatanya aku memang perempuan yang ia beli untuk mengisi kekosongannya di malam hati.

Kakiku sudah lemas ketika hampir dua ronde kami melakukannya, aku tidak tahu apakah pria lain setahan dia. Sungguh, sebenarnya pertama kali aku mengenalnya aku tidak peduli, namun nyatanya kebersamaan kami yang membuat semuanya begitu sulit sekarang.

Setelah selesai, ia ambruk di sampingku. Peluh menetes di kulitnya yang putih, kontras sekali denganku yang mempunyai kulit kuning langsat dan tidak seputih dirinya.

“Kamu memang yang terbaik, “ ucapnya sebelum semuanya kembali sunyi.

***

“Ah aku lupa menaruh jam tanganku, semalam di simpan dimana ya El?”

Namjoon bertanya untuk yang kedua kalinya, selama beberapa bulan tinggal dengannya aku baru menyadari bahwa ia mempunyai sifat pelupa yang kronis.

Tentu saja hanya gelengan yang ia terima, namun aku pun lantas membantunya mencari.

Setelah beberapa menit, nyatanya jam tangan yang ia cari sudah berada di saku celananya.

Kami sempat tertawa terpingkal-pingkal bersama, entahlah kegatan kecil seperti ini nyatanya sudah menjadi rutiniras bagi kami berdua, hatiku kembali di dera perasaan aneh. Tidak boleh, aku tidak boleh terbiasa dengan rutinitas ini. karena cepat atau lambat, aku harus kembali ke duniaku.

Setelah makan sarapan yang aku buat ala kadarnya, ia kemudia berpamitan namun sebelum Ia benar-benar pergi, aku perhatikan ia seperti berfikir sejenak sebelum berbalik ke arahku dan mencium keningku.

Tubuhku kaget dengan perlakuan tiba-tiba yang tidak biasa ia lakukan,

“Mulai hari ini ingatkan aku untuk mengecup keningmu ya,” lanjutnya sebelum pergi meninggalkan pintu.

Aku tak paham dengan perlakuanya, kenapa Namjoon tidak memperlakukanku seperti orang asing saja? Kenapa harus bersifat lembut. Aku takut sekali menaruh perasaan padanyaa, walaupun sebenarnya aku sudah menaruhnya. Persetan dengan segala perbedaan kami.

Nyatanya perlakuan manisnya membuatku tertarik lebih dalam. Sudah dua bulan kami tinggal bersama dan melakukan aktifitas seperti pasangan pada umumnya, walaupun dimatanya aku adalah seorang wanita penghibur.

Setelah membereskan kamar dan piring yang tadi kami gunakan aku berniat pergi berjalan-jalan ke luar sebentar. Sekedar menghirup napas bebas. Membebaskan hatiku dari beberapa ketakutan.

***

Hujan yang turun tiba-tiba membuatku terjebak di salah satu café nyaman di pinggiran kota, sekarang aku sedang duduk di dekat pintu café ini. Memandangi para pembeli yang datang silih berganti.

Mataku tiba-tiba terbuka lebar ketika satu sosok yang aku kenal berjalan keluar dari mobil sembari membawa payung, lalu berlari kecil membuka pintu di sebelahnya.

Seorang wanita dengan rambut coklat sebahu dan ber dress abu keluar sambil mengandeng tangannya. Mataku membulat ketika mengetahui dress yang wanita itu kenakan, sama persis seperti yang kemarin aku coba. Sama persis

Batinku sesak, tentunya itu kenyataan pahit yang harus kuterima. Menamparku kembali kedunia, siapa aku bermimpi bersanding dengannya.

Mataku masih mengamati pergerakan keduanya. Setelah memasuki café Mereka lantas duduk di pojok café dekat kaca, sampai saat ini keduanya tidak menyadari keberadaanku.

Wanita itu tidak canggung-canggung mencium pipi Namjoon pelan, ketika sebelumnya ia tertawa dengan lepas.

Cubitan-cubitan kecil pun wanita itu layangkan ke lengan yang setiap malam mencekik leherku  dan memeberikan kenikmatan.

Saat ini semesta seperti menyadarkanku dengan hujan yang turun, langin yang gelap dan juga cuaca yang dingin. Semua yang aku miliki adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja, seharusnya memang dari awal aku tidak menaruh ekspektasi apa-apa. Bajingan.

Hati dan otaku sudah tidak kuat lagi menyaksikan dua sejoli ini saling melempar candaan dan tertawa.

Buru-buru aku bangkit dari kursi ini namun sialnya saking buru-burunya aku tidak memperhatikan jalanan dan menabrak pelayan kafe yang sedang membawa dua gelas minuman, alhasil suara pecahan terdengar di seluruh café ini.

Dan benar saja, yang aku takutkan terjadi, sekarang ia tengah memandangiku dengan mata coklat gelapnya, ia tidak berekspresi. Aku pikir ia akan menghampiriku atau apa, nyatanya ia memalingkan muka dan kembali tenggelam dengan kegiatanya bersama wanita itu.

***

“Namjoon, boleh aku bertanya?” aku berucap takut-takut,

Namjoon melirik dibalik kacamatanya, sekarang ia tengah berada di ruang tamu dan mengerjakan sesuatu di laptopnya.

Hanya gumaman pelan yang ia tunjukan.

“Siapa wanita yang bersama kamu seminggu yang lalu?”

Benar, sudah seminggu berlalu dan sejak itu kami seperti menjaga jarak satu sama lain, dan ia mendekat hanya ketika ia memintaku untuk bertelanjang didepannya.

“Calon istriku,” tandasnya cepat, kata-katanya langsung menusuk hati.

Aku mematung sebentar berusaha menyadarkan jiwa dan pikiranku kembali ke dunia. Sikapnya berubah, tentu saja. Kedekatan kami belakangan ini hanya sebatas pelarian.

“Kapan kalian akan menikah?” tanyaku lagi,

Aku beranikan untuk duduk di sampingnya, ia melirik sekilas dengan ekspresi tak terbaca.

“Belum tahu, yang pasti bukan tahun ini, ia masih sibuk dengan urusan perusahan Ayah nya,” jelasnya lagi, tangannya lalu memindahkan laptop itu dari hadapannya.

Lalu melepaskan kacamatanya cepat, setelah itu ia menepuk-nemuk pangkuannya yang kosong, aku tersenyum simpun lalu duduk di pangkuannya.

“Kamu cantik, matamu mengingatkan ku pada dia,” deg, aku sudah tidak tahu berapa kali perasaanku tersayat dengan kata-katanya. Semuanya jelas, ia memang mencari hal yang tidak bisa di dapatkan dari calon istrinya.

“Dia?” aku berusaha membuka suara.

“Namanya Kim Devi, calon istriku,”

Aku mengangguk paham berusaha menyembunyikan kepedihan yang sudah berada di ubun-ubun.

“Aku berniat menjadikan kamu housekeeper di rumah kami setelah kami resmi menikah,”  tandasnya yakin.

Aku benar-benar kehilangan kata-kata, apa yang pria ini maksud? Menjadikanku housekeeper dan membuatku berfikir harus berapa lama aku menahan kesakitan ini?

Aku tidak menjawab, hanya ciuman yang aku berikan, ciuman amarah yang tidak bisa aku keluarkan sejak seminggu ini, karena aku tidak mempunyai alasan untuk itu. Siapala aku dibandingkan wanita berkelas yang akan menjadi istrinya.

Aku memberinya ciuman-ciuman yang tidak lembut, menariknya semakin dalam. Ssetidaknya aku sudah merasakan dia berada dalam miliku. Aku berusaha menenangkan hati.

“Ugh Elsi…” racaunya ketika aku berhasil mengelus kejantananya di bawah sana yang mulai mengeras.

Aku tersenyum sekilas, merasa puas dengan apa yang aku lakukan sekarang, bukan hanya itu sekarang aku sedang berusaha membuka celana santainya. Ia menyeringai ke arahku buru-buru mengangkat pinggangnya dan menurunkan celana juga boxernya.

Gundukan itu sudah di depan mataku sekarang, tanpa membuang waktu aku mengelusnya pelan. Ia semakin mengerang di atas sana. Kepalanya ia Tarik kebelakang saat lidahku menyentuh bagian ujung dari kejantannanya.

Sialan amarahku sekarang memang benar-benar menguasai buktinya tidak menunggu lama untuk memasukannya ke dalam mulutku.

Ia menarik rambutku pelan, sambil berusaha menggerakan pinggangnya ke arahku.

***

Berada di ruangan megah membuat kepalaku ku pusing, sudah sekitar sejam yang lalu aku terduduk dengan seorang wanita disampingku, namanya Nani, senyumannya ramah. Ia satu-satunya tamu undangan yang menyapaku.

Ironis memang, seharunya aku tidak menuruti keinginan Namjoon untuk menghadiri acara pernikahannya.

“Kamu ga papa? Kamu pucat banget Elsi,” ia menepuk bahu ku pelan, menyadarkanku kembali kedunia.

Aku menggeleng cepat.

Ia terdiam sebentar, “Aku anter ke dokter yuk , kebetulan rumah sakit dekat sini” paksanya. Untuk beberapa menit aku mematung, namun Nani benar, tubuhku semakin lama semakin lemas. Aku mengangguk pelan.

Kami berdua berjalan ke arah pintu luar hotel megah ini, tamu undangan sudah terlihat memadati parkiran. Hatiku kembali mencelos, mengingat perkataan Namjoon semalam,

“Mungkin aku bukan yang terbaik bagimu, menjadi seseorang yang terus berada di sisimu bukan tugasku, namun aku ingin malam ini menghabiskan waktu bersama kamu, merasakan kebahagian yang menjalar sampai hatiku, sebelum kita benar-benar berpisah.”

Perkataanya sukses membuatku menangis tersedu-sedu setelah kepergiannya dari apartemen yang biasa kami tinggali.

Pikiranku sedang tidak fokus ketika tangan kecil Nani menyentuh kembali pundakku.

Tak terasa kami sudah berada di depan pintu rumah sakit, namun bau rumah sakit yang menyegak langsung memasuki indra penciumanku. Rasa pusing itu semakin kuat, tak lama kakiku lemas dan semuanya gelap.

***

Tanganku di genggam lembut oleh seseorang, elusannya membuatku nyaman. Hatiku menghangat tiba-tiba. Entah siapa pemilik tangan ini namun sepertinya aku tidak mengenalinya.

Aku sekuat tenaga membuka mata, walaupun kepalaku sperti di timpa batu, hati-hati aku menatap ke sebelahku.

Disana sudah ada wajah dengan senyuman ramahnya. Nani. Aku membalas tersenyum walaupun bayangannya masih samar di penglihatanku. Kami memang belum lama kenal, namun ia berujar ia adalah teman dari sepupunya Namjoon, itulah alasan kenapa ia bisa sampai di pernikahan megah itu.

Senyumannya semakin lebar takala aku benar-benar membuka mataku lebar-lebar.

“Berbaring aja kalo masih pusing, jangan buru-buru.” Ucapnya lembut sambil membantu menata bantal untukku dijadikan sandaran.

“Aku ikut bahagia,” sambungya, masih dengan wajah yang ceria

Aku mengernyitkan dahi tidak paham dengan apa yang coba ia utarakan.

“Jadi siapa Ayahnya?” kembali aku dibuat bingung olehnya. Ayah? Siapa? Ikut berbahagia?

Namun otaku cepat menangkap maksud dari perkataanya, dan  detik berikutnya membuat duniaku seolah-olah runtuh seketika. Aku? Hamil?

Namun detik selanjutnya apa yang ia ucapkan menjelaskan semuanga,

“Selamat, kata dokter kamu hamil,”

Aku membeku, mencoba mencerna pekataan yang Nani lontarkan. Tuhan ! kenapa Tuhan  tidak membiarkanku bahagia. Aku ingin sekali menjalani hidup bahagia seperti orang lain, menjalani hidup tanpa trauma masa lalu, merasakan di cintai seperti orang-orang beruntung di dunia ini? kenapa hal itu sulit sekali aku dapat.

Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana, Namjoon bagaimana ini? aku terlalu bodoh dan tidak tahu harus berbuat apa. Kamu baru saja menikah, mana mungkin aku mambawa kabar buruk ini. Tuhan bagaimana ini?

Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikiranku sampai-sampai apa yang dikatakan Nani tidak bisa aku cerna sepenuhnya. Duniaku kembali hancur, berbalik seperti sedia kala. Apa yang harus aku lakukan dengan bayi ini.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarjana Terapan Kebidanan + Pendidikan Profesi

Pengalaman di Behel diklinik gigi Audy Dental Bandung

Mimpi dan target. Apa bedanya?