Perempuan dan kemandirian
Perempuan
dan kemandirian
Jaman
dulu dilahirkan sebagai seorang perempuan adalah hal terberat, apalagi jika
kalian tinggal di pedesaan yang masih kental dengan adat dan istiadat, tapi
coba kita lihat lagi bukan hanya jaman dulu, sekarang pun di jaman yang serba
instan ini, di belahan dunia sana bahkan di daerah pelosok Indonesia masih
banyak wanita yang mengalami diskriminasi hanya karena jenis kelaminnya memang
sangat disayangkan perjuangan RA kartini memperjuangkan hak emansipasi wanita
ternyata masih menemui jalan terjal, tidak semua wanita di Indonesia di
perlakukan dengan adil sebagaimana kaum laki-laki.
Mendengar
cerita ibu di masa lalu, prestasi tertinggi wanita ya menikah dan mempunyai
suami, di jaman itu teman-teman sepermainan ibu buru-buru mencari lelaki yang
mau menikahi mereka. Namun tidak dengan ibuku, di didik dan di besarkan di
keluarga yang keras dan sangat mementingkan disiplin ibu di dukung oleh kakeku
yang kala itu hanya bekerja sebagai seorang petugas puskesmas biasa yang dapat
sertifikat untuk menyembuhkan orang yang terkena penyakit kusta, aku tidak
paham betul bagimana dulu peraturan meteri kesehatan membuat undang-undang,
yang pasti walupun kakek ku bukan lulusan sekolah kesehatan, namun dia diberi
wewenang untuk bisa membuka praktik dan mengobati orang yang terkena penyakit
kusta.
Ibu
ku adalah anak perempuan tertua, di karuniai 2 sodara perempuan dan 1 sodara
laki-laki menjadikan ibu harus mandiri, ditambah didikan dari orang tuanya. Ibu
dikirim bersekolah di bandung, tepatnya daerah majalaya. dengan latar belakang
seperti itu, ibu mendidiku untuk menjadi perempuan yang tidak tergantung
sepenuhnya pada laki-laki.
Aku
sejak kecil didik untuk mandiri, walaupun aku bukan anak sulung dan sewatu
kecil aku selalu dimanja namun tidak membuat aku langsung menjadi anak yang
ketergantungan orang lain. Saat akan memasuki masa SMP aku memutuskan
untuk bersekolah di SMP yang lumayan jauh dari rumah, entah apa yang aku pikirkan
dulu, padahal sekolah yang dekat rumah pun ada, namun nyatanya takdir membawaku
untuk lebih melihat dunia dari sudut pandang lain, dengan aku memutuskan
bersekolah di tempat yang lumayan jauh aku jadi bisa berteman dengan orang
berbagai daerah, teman-temanku ada yang berangkat sekolah bersama-sama
menggunakan mobil kolbak, mereka berasal dari kampung yang sama dan setiap hari
selalu berangkat bersama, karena jika tidak, mereka akan ketinggalan dan tidak
bisa sekolah, karena tempat tinggal mereka jauh serta jalan yang sangat tidak
layak, pernah sekali sebut saja y, perempuan teman sekelasku dulu, karena duduk
di pinggir, seragamnya terkena cipratan yang berasal dari jalanan basah yang
habis di guyur hujan.
Akan
sangat panjang sih menceritakan masa SMP ku, namun semenjak SMP aku sudah
dilatih untuk belajar mandiri. Karena aku adalah pelaku gap year, sudah dua
kali aku mengikuti tes SBMPTN dan dua-duanya aku ikuti tanpa teman dari SMA
yang menemani, aku berangkat dari rumah sodara, karena semalam sebelum ujian di
mulai aku memutuskan untuk menginap dirumahnya lalu berangkat ke lokasi ujian
seorang diri tidak di temani siapapun, benar-benar sendirian di bandung itu,
semua kemandirian itu aku bawa sampai aku menginjak kan kaki di kota bandung
untuk berkuliah. Di kota yang besar ini aku di latih lagi untuk semakin
mandiri, namun harus aku koreksi ya mandiri bukan berarti tidak punya teman,
namun lebih kepada kita bisa melakukan apa-apa tanpa bantuan orang lain dan
tidak akan menjadi masalah ketika tidak ada orang di sekitarmu yang bisa kamu
mintai bantuan.
Namun
kemandirian di Indonesia masih di pandang sebelah mata, apalagi kalo kalian
mempunyai pacar. Pasti pandangan orang sekitar akan mencibir, “Punya pacar kok
kemana-mana sendirian, apa gunanya dong.” Sering sekali aku mendengar ocehan
seperti ini, namun aku hanya membalasnya dengan senyuman. Jadi begini, kita
punya pacar bukan untuk di jadikan tukang ojek, lagian tidak harus selalu pacar
menemani kita kemana-mana kan? Pacar kita pasti punya kesibukan, punya hari
dimana dia tidak bisa menemani kita. Namun jika kita sudah berlatih mandiri,
hal tersebut bukan lah sebuah masalah, namun ada juga kaum perempuan yang jika
pasangannya tidak bisa mengantarnya ke suatu tempat, dia akan marah, nah dengan
belajar mandiri kita bisa mengurangi konflik kecil seperti itu.
Perempuan
Indonesia yang aku tau, namun aku tidak mengeneralisir bahwa semua perempuan
seperti itu ya, ini hanya beberapa contoh saja. Mereka menganggap bahwa pacar
mereka adalah barang milik mereka yang harus menuruti dan harus ada setiap
mereka butuh, I mean apakah itu hubungan yang sehat? Bagaimana
jika pasangan mereka meninggalkan mereka karena sikap mereka yang sangat annoying itu?
Pasti akan menjadi pukulan yang berat bagi para perempuan ini, karena mereka
tergantung sekali dengan pasangan.
Ketegantungan
pada pasangan ini bisa terbawa sampai menikah, bisa juga berubah menjadi
hubungan abuse, jangan salah, abuse bukan hanya perilaku menyakiti dan
kekerasan fisik namun juga perihal pasangan yang terlalu bergantung dengan
salah satunya. Mungkin di lain kesempatan aku akan menuliskan macam-macam abuse
ini doain aja semoga aku masih bisa menulis ya.
Kemandirian
pun tidak hanya berkutik pada kalimat ‘kemana-mana sendiri’ namun lebih
daripada itu, sebagai perempuan kita harus bisa juga mandiri dalam pendidikan
maksudnya harus sudah merdeka dalam hal ilmu pengetahuan dan juga pandangan
hidup, tidak melulu bergantung kepada lelaki. Seperti contoh, seorang ibu yang
baru melahirkan yang tidak merdeka dalam hal pendidikan pasti akan pasrah pada
apapun perkataan suaminya, karena ia sendiri sudah tidak mempunya kuasa atas
diri sendiri.
Aku
jadi ingat cerita bibi ku saat kami sekeluarga berbincang-bincang di ruang tamu
rumah kakek saat itu, saat beliau masih dalam pendidikan dulu, dia di tempatkan
di salah satu daerah di Indonesia dan pada tahun bibi ku menempuh pendidikan
teknologi dan ilmu pengetahuan belum berkembang sepesat sekarang, sebut saja
ibu y, ia memang melahirkan di salah satu posyandu di desa tersebut, namun
mirisnya ibu y tidak bisa baca dan tulis, hanya sang suami yang bisa.
Bidan
dan nakes disana menjelaskan apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan
selama ibu nifas, sang suami mengangguk seperti paham dan merekapun di
perbolehkan pulang, namun dua hari kemudian ia di bawa lagi ke psoyandu dengan
keluahan pusing.
Hasil
kajian bidan disana ia kurang tidur, karena harus mengurus bayi semalaman,
maklum jaman dulu memang pekerjaan wanita itu mengurus anak dan urusan rumah,
jadi walaupun ibu tersebut habis melahirkan tetap, urusan anak dia yang
mengurus, mungkin di temani orang tua si ibu ataupun mertuanya. Dan disaat
bidan bertanya mengapa ibu kurang tidur, ibu tersebut dengan polosnya
menjelaskan bahwa sang mertua dan suaminya melarang dia tidur siang dengan
alasan takut darah naik ke mata.
Bidan
disana tidak kaget mendengarnya, karena mitos seperti itu sangat biasa di sana,
namun nakes disana menjelaskan dengan perlahan dan dengan Bahasa yang mudah di
mengerti si ibu dan juga suaminya. Dengan pendekatan seperti itu suami dan ibu
tersebut paham dan bsia mengerti bahwa hal tersebut adalah mitos.
Kejadian
seperti itu memang sangat sering terjadi, apalagi di daerah pelosok Indonesia,
jangan karena kamu tinggal di kota ataupun di daerah yang mudah kesana-kemari
kamu lantas mengeneralisir bahwa kehidupan perempuan indonesia sama seperti
kamu sekarang, nyatanya tidak sesederhanan itu.
Perempuan
di luar sana masih di control, masih belum merdeka dengan apa yang akan ia
pilih, sekedar pilihan alat kontrasepsi pun suami yang menentukan, pilihan
sepihak seperti itu sangat disepelekan oleh kebanyakan orang, padahal jika kita
membiarkan hal kecil seperti itu terjadi bukan tidak mungkin hal lain yang
lebih besar, seperti KDRT akan terjadi.
Lalu
urusan ranjang pun perempuan banyak yang menjadi korban, para suami ataupun
pasangan tidak memperdulikan keadaan perempuan dan juga konsen mereka, padahalkan
kegiatan seksual tidak hanya suami yang berkah menikmati, namun juga perempuan.
Balik
lagi, culture di Indonesia yang memandang perempuan sebagai kasta ke dua
membuat perempuan itu sendiri tidak mandiri dan selalu merasa lemah, contoh
saja, ketika perempuan dirasa mampu dan bisa mengankat gallon, laki-laki pasti
akan berceletuk ‘biar saja itu pekerjaan laki-laki’ namun yang jadi pertanyaan
jika perempuan merasa mampu dan bisa biarkan saja, apalagi ada kata-kata yang
menyinggung pihak perempuan dengan ‘cewek itu lemah ga boleh bawa yang
berat-berat’ kalo ada orang yang mengatakan itu di depan aku, kalo aku pasti
tersinggung, itu salah satu perkataan yang seksis sekali.
Ditulis
di rumah dalam keadaan pandemic covid19 26 November 2020

Gileeeeeeee mennn , mantabbbbb!!! Sekali lagi . Jangan anggap kami para kaum wanita lemahhhh
BalasHapuswah terimakasihh,
Hapus