Mental abuse adalah salah satu penyebab ARMY kehilangan salah satu anggota keluarga.

Mental abuse adalah salah satu penyebab ARMY kehilangan salah satu anggota keluarga.



 

Nama gadis cantik yang mempunyai rambut sebahu itu Melisa, ia warga Negara Turki yang umurnya masih 15 tahun. Masih sangat belia, namun ia sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang mempesona. Dibalik foto nya yang tersenyum senang, nyatanya ia menimpan begitu banyak beban di dunia ini.

Seperti yang kita sudah tahu, bahwa abuse itu berbagai macam bentuknya. Tidak memulu dengan kekerasan dan juga menimbulkan luka fisik. Yang tidak kalah bahayanya adalah abuse mental.

Sering kita tidak sadari bahwa kita adalah korban abuse mental, karena akibatnya tidak langsung terlihat, namun membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya. Dikalangan masyarakat abuse mental ini di anggap enteng dan remeh, padahal akibatnya sangat mengerikan dan membunuh perlahan.

Seperti yang dialami gadis cantik ini, selama bertahun-tahun lamanya Ayahnya selalu mengatai-ngatai Melisa dengan kata-kata kasar yang seharusnya tidak ia terima, apalagi di umur sebelia itu.

Banyak faktor yang menjadi penyebab kematian Melisa, salah satu yang penyebabnya tak lain adalah dikarenakan terlalu sering mendapat mental abuse. Melisa pernah menulis cuitan  di twitter bahwa ayahnya memang tidak akan membunuhnya secara langsung, namun dengan sadar ayahnya sudah membuat alam bawah sadar melisa mendapatkan perlakuan sangat tidak menyenangkan dari ayahnya dan menimbulkan trauma yang berbekas.

Kita semua tidak tahu keluarga seperti apa yang menjadi tempat melisa tumbuh, namun yang pasti jika kita lihat dari perlakuan ayahnya, Melisa dibesarkan dengan berbagai macam trauma masa lalu yang akhirnya membentuk Melisa sekarang, Melisa yang rapuh dan memutuskan untuk mengakhiri kehidupan dunianya.

Begitu mendengar kabar itu kemarin, saya langsung terisak. Cuitan balasan yang Melisa tulis di postingan SUGA sangat menyanyat hati saya, bagaiman gadis sebelia itu bisa menanggung beban yang sangat berat. Namun nyatanya seiring berjalannya waktu Melisa sudah tidak sanggup lagi menanggung semua beban yang selama ini ia tanggung.

Hal ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa tiap manusia mempunyai beban masalahnya sendiri-sendiri, tidak bisa kita sama ratakan. Jangan sekali-kali kita menyebut beban si A tidak lebih berat dari beban si B, tidak. Manusia tidak boleh seperti itu karena coping stress (cara manusia menghadapi dan mengobati stress atau meminimalisai) berbeda-beda.

Bisa saja walaupun beban masalah si B lebih berat daripada si A, namun si B mempunyai koping stress yang cukup baik, jadi dia terlihat lebih baik dalam mengatasi masalah kesehariannya.

Kesehatan mental seseorang sudah dibentuk sejak masa dalam kandungan, bagaimana pola prilaku si ibu kepada janin secara tak langsung mempengaruhi si janin bagaimana ia bisa mendapatkan koping stress yang baik.

Prilaku merokok, meminum-minuman alcohol secara langsung maupun tak langsung berdampak pada janin. Disalah satu sumber jurnal yang saya baca bahwa merokok atau meminum minuman keras saat sedang hamil bisa berdampak pada pertumbuhan syaraf bayi.

Hal itu bisa menajdi kan si bayi mengidap skizofrenia di masa dewasa ataupun remajanya. Tentu hal ini tidak di inginkan oleh orang tua man pun didunia.

Baliklagi ke kasus Melisa kali ini, mungkin dia bukan satu-satunya ARMY yang memilih jalan seperti itu, namun bedanya Melisa bisa mendapat perhatian para ARMY lain. Sehingga para ARMY berbondong-bondong menuntut keadilan untuk Melisa.

Bagaimana jika diluar sana, masih banyak Melisa-melisa lain yang tidak ter ekspos media dan diberitakan? Tentunya kita tidak ingin keluarga ataupun teman dekat kita mengalami hal semacam ini.

Saya pernah mendengarkan cerita salah satu ARMY yang pernah mengalami depresi dan pikiran untuk mengakhiri hidup, masalah keluarga dan juga diikuti oleh masalah percintaan jadi penyebabnya.

Nyatanya dari beberapa cerita teman yang pernah saya dengar anak yang tumbuh di keluarga dan lingkungan abuse akan mendapatkan pasangan yang abuse juga. Namun itu hanya opini saya setelah mendengar beberapa teman ARMY maupun non ARMY bercerita.

Lagu BTS yang pertama yang dia dengar -teman saya yang pernah berpikiran untuk bunuh diri -ini adalah Fire, lagu yang dulu pernah dance nya di cover oleh sekumpulan anak-anak asal Indonesia dan jadikan dance cover parody yang tema lagunya berkaitan dengan puasa ramadhan. Dulu vidionya masih ada di youtube, namun setelah saya cek lagi ternyata sudah menghilang. Padahal sangat menghibur.

BTS memang datang sebagai boygrup yang membawa angin segar dikala industry kpop tengah dilanda lagu-lagu cinta-cintaan yang hanya menampakan keindahan luar saja. Sungguh ironi.

Lagu-lagu yang penuh makna itu nyatanya bukan hanya di ciptakan tanpa alasan, lagu tersebut memang di buat dari hati yang paling dalan. Belum saya menemukan grup kpop yang menciptakan lagu menggunakan hati dan peresaan mereka. Seolah-plah mereka memang berada di posisi tersebut.

Lirik lagu yang sangat jujut, gendre yang sangat beragam dan kreatiftas para member yang membuat ARMY bukan hanya sekelompok remaja yang bisa berteriak saja. Lebih daripada itu.

ARMY dan BTS adalah pasangan yang sangat serasi dan kompak, mereka saling berbagi dunia, berbagi kehidupan, berbagi keresahan dan juga berbagi kesenangan. Kami adalah keluarga, keluarga harus saling melindungi. Untuk kalian yang membaca ini dan sedang mengalami perasaan yang tidak mengenakan. Cari keluarga kalian, cari kami –ARMY- kami akan selalu mendengarkan. Namun alangkah lebih baiknya kunjungi professional. Sekali lagi mari kita kirim doa untuk Melissa agar tenang di alam sana.

Melisa, are you happy now?

 

Ps, saya berkaca-kaca sambil menulis ini.

Twitter: sostelenak

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarjana Terapan Kebidanan + Pendidikan Profesi

Pengalaman di Behel diklinik gigi Audy Dental Bandung

Mimpi dan target. Apa bedanya?